<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043</id><updated>2011-10-20T10:25:25.901-07:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Dua Empat Jim</title><subtitle type='html'>Kumpulan Artikel Penulis Inspiratif</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-3485528620422542525</id><published>2011-10-20T10:25:00.000-07:00</published><updated>2011-10-20T10:25:25.917-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>MATIKAN TV-MU: AGAMA VS MEDIA</title><content type='html'>MATIKAN TV-MU: AGAMA VS MEDIA?&lt;br /&gt;Ratna Noviani, Dosen KBM UGM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan akan buruknya dampak tayangan media, belakangan ini makin marak dibicarakan. Media, terutama televisi, menjadi tertuduh utama ketika tindak kekerasan, kejahatan seksual maupun gaya hidup konsumtif semakin menunjukkan skala statistik yang tinggi. Kekhawatiran akan dampak buruk media memang bukan tanpa alasan. Proliferasi media audio visual, mulai dari televisi, film hingga video game, membuat hidup kita seolah tidak bisa dipisahkan dari gemerlapnya citra-citra media. Media menjadi ubiquitous, ada dimana-mana, dan kehadirannya sulit untuk dihindari atau ditolak. Ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tekstur dan rutinitas kehidupan sehari-hari kita. Televisi khususnya, menyediakan sumber daya simbolik yang memberi kita referensi-referensi untuk bersikap dan bertingkah laku. Tak heran jika media massa dianggap telah menggeser fungsi institusi sosial tradisional seperti keluarga, gereja, sekolah atau pun pesantren. Media diyakini telah menggeser tugas guru, agamawan maupun orang tua sebagai educato, menyediakan role-model bagi anak-anak dan remaja, dan menjadi sumber acuan untuk mendefinisikan mana yang baik dan mana yang buruk.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, media telah menjadi semacam contemporary civil religion (Robert N. Bellah, 1967) atau agama sipil kontemporer, yang melibatkan bentuk-bentuk pemujaan baru lewat ritual-ritual menonton dan mengkonsumsi media. Persoalannya, bukan rahasia lagi bahwa realitas yang dibawa oleh media adalah realitas yang berselimut kepentingan kapitalis industrial yang tidak lain berujung pada akumulasi profit semata. Budaya media, dalam hal ini, bekerja secara hegemonik dan ideologis untuk mendukung kepentingan para pemilik media. Prinsip yang penting laku dan mendatangkan untung, menjadikan tayangan media tak lebih dari bujuk rayu kosong yang dikemas dengan citra-citra yang penuh warna. Media makin asyik mengejar kepentingan ekonominya dan cenderung mengesampingkan tanggung jawab sosialnya untuk mendidik dan mencerahkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjamurnya bisnis media di Indonesia, termasuk televisi, pasca jatuhnya rejim Orde Baru, ternyata tidak berkorelasi positif dengan beragamnya tayangan yang bisa dipilih dan dinikmati oleh masyarakat. Sebaliknya, hampir semua stasiun televisi menayangkan program dengan format dan muatan yang sama. Sebut saja infotainment yang sarat dengan gosip dan jadi ruang pamer bagi para selebritis, acara berbau mistik lengkap dengan citra-citra hantu dan setan, serta gemerlapnya sinetron percintaan remaja yang cenderung menjual mimpi. Kecenderungan untuk latah meniru program acara yang konon terbukti menarik perhatian penonton menjadi jurus jitu bagi stasiun televisi untuk meraih keuntungan secara instant. Akibatnya, kreativitas dan kualitas tayangan bukan lagi prioritas utama. Rating, parameter disukai atau tidaknya sebuah tayangan—yang sistem dan akurasinya nota bene perlu dipertanyakan—menjadi alasan ampuh untuk mempertahankan kontinuitas sebuah tayangan, bahkan yang tidak mendidik sekalipun. Kepentingan masyarakat pada akhirnya harus tunduk dan menjadi subordinat dari kepentingan korporasi media. Situasi ini sebetulnya bisa berubah jika negara mampu melakukan intervensi dan menjalankan fungsi moderasinya pada pasar media. Sayangnya, berkelindannya kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik dalam industri media serta fenomena tawar menawar politik membuat pemerintah tidak mampu menerapkan regulasi yang tegas dan cenderung ambigu untuk menertibkan carut marutnya realitas pertelevisian kita, baik dari sisi industri maupun isi media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk perundang-undangan yang sudah ada seperti UU Penyiaran/2002 maupun kehadiran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seolah tak kuasa dan tak punya gigi untuk menghadapi rejim televisi. Ambiguitas pemerintah untuk mengintervensi dan menertibkan pasar media pada akhirnya berdampak pada menjamurnya tayangan-tayangan televisi yang disinyalir oleh banyak pihak sebagai pemicu rusaknya moral masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On/Off Switch&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan wacana dekadensi moral dan rusaknya kehidupan sosial, tuduhan bahwa televisi berperan besar makin sering bermunculan. Maraknya kekerasan dan perkelahian di kalangan anak-anak sekolah, tayangan televisi seperti Smack- Down misalnya disebut-sebut sebagai pemicunya. Goyang ngebor Inul di televisi dianggap menstimulasi orang (baca: laki- laki) untuk melakukan kejahatan dan pelecehan seksual. Tayangan mistik bertema hantu dan alam gaib membuat orang makin tidak rasional dan mengarah pada perbuatan syirik. Banyak pihak menuding televisi sebagai biang keladinya, tak terkecuali para pemuka agama. Televisi dianggap menyebarluaskan pesan-pesan negatif yang tidak sesuai atau kontradiktif dengan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tudingan bahwa dekadensi moral masyarakat adalah dosa media menyiratkan ketakutan akan kekuatan media dalam mengikis nilai-nilai moral dan spiritualitas masyarakat. Hal ini tersirat misalnya dalam gerakan moral Aisyiyah dan Muhammadiyah dengan jargon “Matikan TV- mu”, sebagai bentuk protes pada tayangan televisi yang bisa merusak akidah. Ada polarisasi di sana, dimana media diposisikan sebagai rival dari institusi-institusi sosial tradisional — termasuk agama— dan melemahkan pengaruh dari para pemimpinnya. Asumsi ini seolah makin menegaskan adanya posisi vis a vis antara media dan agama yang sering dikaitkan dengan polarisasi biner sekuler/amoral (media) versus sakral/moral (agama). Ada kecenderungan untuk melimpahkan tanggung-jawab akan dekadensi moral pada tayangan media semata, dan mengaburkan fungsi serta peran dari institusi sosial lain seperti agama, pendidikan maupun keluarga. Tidakkah persoalan dekadensi moral masyarakat juga sebuah indikasi kegagalan institusi sosial lain seperti agama, pendidikan dan keluarga dalam menjalankan peran dan fungsinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih untuk mengajak masyarakat mematikan televisi, justru terkesan melebih-lebihkan efek media dan sekaligus menempatkan media sebagai entitas yang sama sekali terpisah dari budaya dan institusi sosial lain yang ada dalam masyarakat. Mary Ann Watson (2004) dalam esainya “Ethics in Entertainment TV” mengkritik pihak-pihak yang mendukung “The Myth of the On/Off Switch”. Ia menekankan bahwa pilihan mematikan televisi, sama halnya dengan memilih untuk berhenti bernapas di tempat yang udaranya sudah tercemar. Upaya ini cenderung emosional dan tidak akan efektif mengingat di era globalisasi dan komersialisasi serta berkembangnya teknologi komunikasi, televisi bukan lagi satu-satunya media yang bisa diakses dan dikonsumsi publik. Media bersinergi satu sama lain dan menerpa kita dari berbagai penjuru, mulai dari televisi, internet, film hingga media-media personal seperti handphone. Mematikan televisi tidak akan berpengaruh apa-apa jika pilihan untuk mengakses media lain terbuka lebar. Jika semua media bisa membawa dampak buruk, akankah kita mematikan semua media sebagai alternatif agar selamat dari dampak buruk media?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, menuding media sebagai pemicu utama persoalan dekadensi moral cenderung melupakan fakta bahwa media bukanlah entitas yang sama sekali terpisah dan terisolasi dari institusi lain dalam sistem sosial masyarakat. Perlu diingat bahwa media televisi juga berfungsi sebagai cermin budaya atau cultural forum (Newcomb/Hirsch, 1994), dimana relasi-relasi budaya dalam masyarat diartikulasikan, ditayangkan, diperdebatkan dan dinegosiasikan. Televisi memang berperan aktif dalam mengkonstruksi budaya dan realitas, menjadikan hidup lebih hidup, membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin, membuat impian di dunia nyata menjadi kenyataan di dunia televisi. Namun, televisi juga menjadi situs dimana nilai-nilai dominan dan kepentingan-kepentingan sosial politik dinegosiasikan dan diartikulasikan. Artinya, apa yang dibawa oleh televise tidak sepenuhnya ahistoris dan tanpa dasar. Sebaliknya, tayangan televisi juga bisa dilihat sebagai produk negosiasi dari relasi-relasi kekuasaan yang ada di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, media itu sebetulnya shaper dan sekaligus product of culture, yang dalam prosesnya selalu melibatkan interaksi dan relasi-relasi kuasa dari beragam kepentingan dalam masyarakat. Contoh yang paling nyata, wajah dan posisi perempuan di layar kaca, bukan semata-mata hasil rekayasa murni media, tapi lebih merupakan artikulasi dan reproduksi sikap dan kepentingan sistem patriarkhi yang lebih luas. Sinetron-sinetron yang mengangkat tema-tema religius seperti Rahasia Illahi, Takdir Illahi, Hidayah dan tayangan sejenis lainnya juga cenderung menegaskan sikap-sikap dominatif pada perempuan. Citra perempuan hanya digunakan untuk mengeraskan dan meneguhkan pemahaman kelompok tertentu bahwa kesalehan perempuan dalam Islam dibuktikan lewat kepatuhan dan ketertundukan totalnya pada laki-laki. Meski teraniaya, perempuan yang saleh harus tetap tunduk dan menurut pada suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kehadiran agamawan yang kadang dimunculkan di akhir cerita sinetron tidak mengajak penonton untuk membaca dan memahami sinetron religius secara cerdas. Sebaliknya, para agamawan hanya muncul dengan kutipan-kutipan ayat yang dijadikan pendukung dan pembenar dari perspektif tertentu yang menjadi dasar cerita sinetron. Sementara ayat-ayat lain yang bisa mementahkan perspektif itu cenderung disimpan dan dikesampingkan. Pun dengan acara-acara berbau mistik, para agamawan yang muncul di akhir cerita, bukan mengajak orang untuk kritis dan cerdas menghadapi persoalan hidup, tapi hanya menegaskan, tak lupa dengan kutipan ayat-ayat, bahwa dunia gaib dan setan itu memang ada. Kehadiran para agamawan karenanya tak lebih dari sekedar gincu saja, agar kesan dakwah tetap terasa. Jika agamawan hanya ikut-ikutan terjebak dalam selebritisasi dan komersialisasi agama di layar kaca, tugas untuk mencerahkan masyarakat pun akhirnya jadi terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negosiasi Makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diakui bahwa realitas yang dibawa televisi memang bisa mempengaruhi penontonnya. Namun, efek atau pengaruh televisi itu punya dimensi yang luas dan berkaitan dengan fenomenologi menonton itu sendiri. Aktivitas mengkonsumsi media pada dasarnya bukan aktivitas yang sederhana, satu dimensi dan terisolasi dari konteks serta geografi menonton. Menonton televisi merupakan kegiatan memproduksi makna, proses untuk memahami dan menginterpretasikan citra-citra yang dilihat di layar kaca. Makna tidak inheren dalam sebuah tayangan, tapi harus dimunculkan oleh penonton itu sendiri. Untuk itu seorang penonton akan melibatkan memori, pengetahuan dan kerangka budaya yang melingkupinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alfred Schutz (1966) menyebutnya sebagai stock of knowledge, yang diperoleh individu dalam kehidupan sehari-hari dan menyediakan referensi untuk menginterpretasikan obyek dan peristiwa yang ditemuinya. Setiap tayangan media memang menawarkan pemaknaan tertentu seperti yang diinginkan oleh si pembuat acara. Namun, dengan stock of knowledge yang dimilikinya, tanpa sadar penonton sebetulnya bernegosiasi untuk menerima makna dominan dan hegemonik yang ditawarkan oleh media, menolaknya sama sekali, atau mengkompromikan makna yang ditawarkan media dengan makna yang dibuatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milieu atau habitus individu penonton akan mempengaruhi proses negosiasi ini. Selain itu, rumah sebagai lokasi utama menonton televisi juga bisa membawa pemaknaan yang sangat berbeda antara satu individu dengan individu lain terhadap satu tayangan yang sama. Peran orang tua dalam menemani anak menonton televisi, dominasi ayah atau ibu terhadap remote televisi, atau suasana rumah pada saat menonton jelas akan membawa warna tersendiri pada proses pemaknaan sebuah tayangan. Jadi, penonton media pada dasarnya adalah individu-individu yang aktif dalam proses pemaknaan citra-citra media. Disinilah mestinya institusi keagamaan ikut ambil bagian untuk mendidik dan menguatkan karakter masyarakat, agar bisa mencerna dan memaknai realitas media dengan lebih cerdas. Membantu menguatkan mental masyarakat agar siap dan mampu bernegosiasi dengan makna-makna media jauh lebih strategis daripada menghindari dan mengajak mereka untuk mematikan televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Almaarif&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-3485528620422542525?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/3485528620422542525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/10/matikan-tv-mu-agama-vs-media.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/3485528620422542525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/3485528620422542525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/10/matikan-tv-mu-agama-vs-media.html' title='MATIKAN TV-MU: AGAMA VS MEDIA'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-4065921180920298346</id><published>2011-07-06T00:32:00.005-07:00</published><updated>2011-07-06T00:32:59.738-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Rakyat Tak Perlu Kecewa</title><content type='html'>Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini seperti menjadi momen terbaik untuk menunjukkan bahwa kita sebagai rakyat dan bapak-bapak anggota DPR sebagai wakilnya adalah dua hal yang berbeda. Meski sulit diterima akal, itulah kenyataannya. Rakyat antre beras! Berdiri berjejer memanjang di siang yang panas untuk sekadar bisa membeli beberapa kilogram beras berkualitas kurang baik dengan harga murah. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, para wakil rakyat begitu sibuk mengurus rapel tunjangan komunikasi. Tunjangan yang bagi rakyat -terus terang- sulit dimengerti fungsinya. Lantas, apanya yang sulit diterima akal? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu di antaranya ya kenyataan antre beras itu. Pemandangan yang semestinya hanya layak kita jumpai dalam film-film dokumenter era 60-an tersebut seperti didaur ulang dan diputar kembali untuk kemudian dijadikan tontonan di berbagai tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuburan dan kekayaan negeri ini sesungguhnya tak perlu lagi diragukan. Rakyat juga rajin bermandi keringat dalam kerja keseharian. Yang mengherankan, mengapa mereka gagal mendapatkan jaminan rasa aman akan ketersediaan pangan yang cukup sebagai imbalan kerja kerasnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti ada yang tak beres di sini. Tanah dan segala yang dikandung akan senantiasa memenuhi apa pun yang dibutuhkan penghuninya. Tapi, bumi beserta isinya ini sebenarnya tak sanggup memenuhi nafsu serakah dan perut seorang koruptor yang tak pernah kenyang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah menerima uang rapel yang sedang hit itu merupakan tindakan korupsi atau bukan, sekarang sedang diperdebatkan. Kata seorang pakar hukum tata negara, jelas itu korupsi! Kata wakil rakyat, jelas bukan korupsi, tapi halal-halal saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, bukan itu esensinya. Korupsi atau bukan, uang haram atau uang halal kadang-kadang hanyalah deskripsi. Deskripsi hanya soal keredaksian. Keredaksian hanya susunan kalimat dan kata-kata. Apa susahnya berjalan-jalan ke luar negeri diubah menjadi studi banding ke luar negeri, agar segepok uang bisa dibilang halal untuk dikantongi, lalu dipakai shopping atau apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukanlah soal kebiasaan di mana rakyat selalu ingin ditempatkan sebagai pihak yang melulu benar dan harus selalu dibela, tapi semata-mata sebuah kewajaran saja. Sudah begitu banyak tunjangan dan fasilitas dengan aneka istilah yang telah diterima para wakil rakyat. Persoalannya, mengapa para wakil rakyat yang kita hormati tersebut seperti tidak pernah merasa cukup dengan itu semua. Itu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkumpul dan berserikat, misalnya, adalah hak semua orang. Termasuk, anggota Dewan Perwakilan Rakyat juga mempunyai hak itu. Rakyat tentu tak melarang para anggota dewan di kabupaten-kabupaten membentuk Adkasi dan para anggota DPRD kota di negeri ini bersatu membentuk Adeksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dicatat, perkumpulan-perkumpulan tersebut dibentuk tanpa izin rakyat. Sementara itu, demo untuk menolak revisi PP 37/2006 guna menuntut cairnya uang rapel oleh Adkasi dan Adeksi di Jakarta baru-baru ini sungguh murni untuk kepentingan perut pribadi para wakil rakyat, bukan untuk kepentingan rakyat yang memilihnya. Begitu banyak sebenarnya energi dan tenaga yang dikeluarkan para wakil rakyat kita, tapi demi kepentingan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wakil rakyat tersebut juga menyebut aksinya kali ini sebagai sebuah perjuangan. Istilah yang lazim digunakan para pejuang kemerdekaan dan para buruh pabrik dalam menuntut UMR itu kini berubah menjadi sebuah paradoks yang keterlaluan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wakil rakyat datang dari berbagai penjuru tanah air menggunakan pesawat, lalu menyewa kamar di berbagai hotel mewah di Jakarta sebagai tempat persiapan melaksanakan perjuangannya. Seorang teman wartawan mencoba menghitung secara kasar biaya untuk aksi perjuangan tersebut. Tak kurang dari Rp 8 miliar harus dikeluarkan untuk mengadakan demo yang bagi rakyat layak disebut "demo gombal" itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hanya tidak paham, kok begitu gampang dan begitu banyak uang dihamburkan, sedangkan rakyat sedang diintip kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski gombal, demo itu mungkin akan membuahkan hasil. Pengamat politik Laode Ida menilai, uang tunjangan berlimpah yang dinikmati anggota DPR merupakan ekspresi keserakahan memanfaatkan kedudukan. Mereka menyadari posisi sebagai anggota DPR yang lebih kuat dari eksekutif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, yang dibutuhkan para wakil rakyat pasti dipenuhi pemerintah. Kenyataan tersebut sungguh berbanding terbalik dengan yang menjadi kesulitan serta kebutuhan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tak apa-apa. Rakyat bukanlah tipe manusia yang gampang kesepian, meski terus-menerus dikibuli dan ditinggalkan. Hanya, rakyat juga harus segera sadar. Segera membebaskan diri dari harapan-harapan seolah-olah ada pihak yang peduli pada berbagai kesulitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat harus segera mengurus dan mengatasi persoalan hidup sendiri, tak perlu lagi merasa kecewa terhadap wakil yang dipilihnya. (leak@jawapos.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-4065921180920298346?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/4065921180920298346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/rakyat-tak-perlu-kecewa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/4065921180920298346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/4065921180920298346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/rakyat-tak-perlu-kecewa.html' title='Rakyat Tak Perlu Kecewa'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-3772543625788762825</id><published>2011-07-06T00:32:00.001-07:00</published><updated>2011-07-06T00:32:19.257-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Nyabiladiong</title><content type='html'>Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul ini bukanlah apa-apa. Bukan gabungan suku kata yang dipungut dari tempat terpencil yang jauh dan asing. Ia cuma sebuah ungkapan yang belakangan semakin sering kita dengar: nyambung bila diajak ngomong. Biar kesannya aneh, lantas saya pendekkan. Sesungguhnya, nyabiladiong adalah kebutuhan primitif yang sejak dulu juga ada. Cuma, tidak semendesak sekarang.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era ini adalah era komunikasi dan aura kebebasan terus bergerak membaik. Era di mana kita sangat dimanja berbagai kemudahan untuk berkomunikasi. Handphone murah, internet dengan speed yang kian tinggi, banyak stasiun televisi, tiket pesawat murah, pulsa murah, bonus SMS gratis, akses kian mudah, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin hari, kita semakin gampang untuk saling berhubungan. Tapi, semakin sulit untuk saling memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era serbabebas ini, kita juga begitu leluasa bersikap serta memilih. Siapa saya, dia, mereka, dan siapa Anda adalah individu-individu yang semakin kuat perbedaannya. Pemahaman bahwa setiap kita adalah makhluk yang memang berbeda-beda, tentu kita tahu. Tapi, sekarang kian nyata faktanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya adalah saya," kata saya. "Saya bukanlah fotokopi bapak saya," kata yang lain. Atau, misalnya lagi, jadilah diri Anda sendiri. Maka, seorang putri yang beranjak remaja akan berkata, "Ma, saya memang anak Mama, tapi nggak bisa kalau harus seperti Mama..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Khalil Gibran, anakmu bukanlah anakmu. Dan, istrimu memang istrimu. Tapi, kau tak berhak segalanya atas istrimu. Tak lagi musim untuk memaksakan seleranya agar sama. Tak boleh kita kasari jika pendapatnya berbeda. Mau kribo, mau gundul, mau pirang, mau seksi, semua terserah gue. Suka-suka lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mau menengok ke belakang, tentu akan terasa: betapa telah sangat berubah semuanya. Sekarang, untuk menjadi artis, tak lagi cantik memukau atau tampan menawan sebagai syaratnya. Bisa seperti Ucok Baba, boleh kacau seperti Thukul Arwana, atau kayak Agnes Monica. Terserah! Yang penting, sebagai individu, sekuat dan sehebat apa kemampuan Anda. Semua punya peluang yang sama, meski jenisnya tak sama. Anjuran tentang keseragaman adalah sesuatu yang terus merosot kepopulerannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradoksnya, kita semakin sulit menemukan pasangan yang punya kesamaan, bahkan untuk beberapa hal saja. Pasangan untuk menjadi suami istri, sekadar partner ngobrol, teman dekat, tempat curhat, pacar, teamwork, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda krisis saling sulit memahami itu sangat gampang dikenali. Di mana-mana, orang mengidentifikasi diri dan mengenali yang lain dengan cara membentuk kelompok, peguyuban, serta semacam klub-klub. Terkadang, mereka harus berkumpul dari tempat yang jauh terpencar-pencar hanya karena ingin rumpi-rumpian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat kesenangan dan kesamaan aktivitas, kemudahan-kemudahan untuk berinteraksi mereka bangun. Siapa saya dan siapa Anda menjadi lebih mudah dan cepat dikenali. Klub Penggemar Penthol Baso, Asosiasi Maniak Tempe Penyet, Komunitas Pendaki Gunung Kembar, Klub Pemancing Sandal Jepit Laut Dalam, Perkumpulan Pemilik Vespa Lawas, dan lain-lain. Di komunitas itu, mereka bisa sangat gayeng saat saling ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artis-artis selalu lebih transparan dan afdal dalam merefleksikan kenyataan tersebut. Ketika si cantik ini dan si tampan itu ditanya presenter infotainment "apa yang membuat Anda bisa jalan sama dia, lalu berencana hidup berumah tangga?" Jawaban generik yang diucapkan adalah karena dia orangnya enak atau asyik atau menyenangkan karena nyambung bila diajak ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat pasangan itu nyambung bila diajak ngomong? Bisa kesetaraan pemikiran, bisa kesamaan kesenangan. Tapi, yang paling esensial adalah adanya saling pemahaman. Seorang pemilik vespa kuno bisa begitu cekatan menolong manakala berpapasan dengan pengendara vespa lain yang sedang mogok di jalan. Pengendara motor jenis lain bisa cuek-cuek saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skala yang lebih besar dan legal, kita mengelompok dalam banyak partai politik. Betapa beragam partai politik kita miliki. Betapa banyak perbedaan yang ada di sini. Betapa besar pemahaman yang sebenarnya kita butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden dan wakil presiden termasuk pasangan yang juga begitu baik menunjukkan adanya krisis ketidaknyambungan. Sebab, mereka memang merupakan representasi dari partai yang berbeda. Presiden ngomong begini, wapres ngomong begitu. SBY bersikap begini, Kalla bersikap sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, keasyikan tiba-tiba muncul begitu mereka berada di tengah-tengah komunitas partainya. SBY dengan Partai Demokrat-nya, Jusuf Kalla dengan Golkar-nya. Semua serbacocok dan nyambung adanya. Sejalan setujuan, sevisi sepenanggungan. Ohoi... ulukuthuk-olokothok, sayuk rukun amargo bolo (rukun karena teman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, dibutuhkan jiwa kenegarawanan sejati untuk bisa menanggalkan semangat kelompok dan perkoncoan. Agar, bisa memahami serta melihat arti yang lebih besar. Nah, kalau soal ngomong saja sulit nyambung, apalagi soal kerja mengurus negara. Pak SBY-Kalla, please jangan gitu dong, ah... Kita capek deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong apa saya ini, Anda nyabiladiong? (leak@jawapos.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-3772543625788762825?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/3772543625788762825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/nyabiladiong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/3772543625788762825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/3772543625788762825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/nyabiladiong.html' title='Nyabiladiong'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-8905404724314261755</id><published>2011-07-06T00:31:00.005-07:00</published><updated>2011-07-06T00:31:49.829-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Musim Mencari Sekolah</title><content type='html'>Musim durian baru saja berlalu. Kalau toh di pinggir-pinggir jalan masih kita jumpai ada satu-dua pedagang kaki lima yang menggantungkan durian dagangannya, pastilah itu durian terakhir yang tersisa di musim kali ini. Musim sedang berganti.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, tibalah saatnya musim anak mencari sekolah. Antara durian dan anak sekolah sebenarnya tak ada hubungan. Tapi, soal perlakuan, kadang ada kesamaan. Kita sering heboh -baik soal anak maupun durian- ketika musimnya sedang tiba saja. Baunya suka nggak keruan menyebar ke mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah saatnya orang tua, terutama yang hendak mencarikan sekolah untuk anaknya, mengeluh pusing dan banyak yang pontang-panting ke sana kemari mencari pinjaman dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak semua. Tapi, topik tentang mencarikan sekolah anak memang lagi musimnya dan hangat-hangatnya. Sejauh mana kita bersungguh-sungguh memikirkan sekolah anak dan tidak menganggapnya sebagai sebuah acara musiman semata? Masing-masing orang tua berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang tua yang lemes gara-gara batal ganti audio mobil karena harus membayar uang pangkal sekolah anaknya. Keinginan mengganti perangkat audio mobil adalah keinginan lama. Tapi, membayar biaya masuk sekolah anak adalah sesuatu yang sepertinya datang begitu tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasanya nggak pernah saya terlambat membayar tagihan kartu kredit. Tapi, bulan ini nggak tahu deh. Habis, anakku masuk sekolah sekarang," ujar seorang bapak muda kepada temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tua tentu mencintai anaknya, tapi sering gagal untuk sungguh-sungguh menjalankan tool aplikasinya. Dan, ketika menyangkut biaya sekolah, kebutuhan jenis itu sering masuk kategori biaya lain-lain. Ia menjadi semacam biaya tak terduga saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang musim anak mencari sekolah. Kantor pegadaian dan bank perkreditan rakyat disesaki nasabah pada hari-hari ini. Karena memang musimnya, kalung, televisi, atau BPKB pun ikut "disekolahkan". Di kantin, saya menjumpai percakapan mencengangkan tentang SD swasta full day yang SPP-nya jauh lebih mahal ketimbang uang semester mahasiswa (negeri, tentu!). Belum jumlah uang sumbangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebut uang sumbangan sekolah, kita bisa lebih tercengang lagi. Sebab, di musim anak mencari sekolah, kata sumbangan bisa punya arti khas dan unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logikanya, sekolah-sekolah yang perlu sumbangan besar adalah sekolah yang dindingnya rentan roboh, plafonnya rontok, bangku-bangkunya reyot, dan bocor saat hujan karena gentingnya pada melorot. Kenyataannya justru sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung-gedung sekolah yang megah dan ruangan-ruangannya yang berpendingin, kewajiban menyumbang bagi orang tua calon siswa ditarik sebanyak-banyaknya. Sekolah yang lebih kreatif dan tidak vulgar menarik sumbangan menemukan cara yang elite. Sebagai orang tua calon siswa, ada persyaratan khusus yang harus dipenuhi saat mendaftarkan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu, orang tua calon siswa harus menjadi member sebuah perkumpulan golf yang menjadi satu dalam sebuah jaringan korporat. Nah, untuk menjadi anggota golf club, mereka harus menyediakan uang setidaknya seratus juta. Itu bisa lebih, bergantung jenis keanggotaan Anda di golf club itu. Apakah Anda ingin menjadi pemegang gold card, platinum, atau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru soal biaya, belum bicara sistem. Menurut si cantik Sophia Latjuba dan kawan-kawan dalam Education Forum yang memenangkan gugatan atas pelaksanaan ujian nasional (unas) oleh pemerintah, banyak siswa terganggu secara psikologi dan mental akibat unas. Kalau memang benar kenyataannya, oh... betapa menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang tua, tentu kita semua pernah merasakan sekolah. Tapi, sekolah pada zaman kita memang tidak seheboh sekarang. Betapa makin berat biaya yang harus ditanggung orang tua murid. Juga, betapa rumit sebenarnya hidup yang harus dijalani seorang siswa. Sekolah bukan persoalan pelajaran dalam kelas semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kota Tegal, seorang siswi bisa ditemukan tewas gantung diri gara-gara tak kuat menanggung malu akibat diejek teman-temannya. "Hari gini masih ada orang nggak punya handphone..." ledek teman-teman sekelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman ini, tak ber-handphone adalah beban rasa malu yang tak tertahankan bagi seorang siswa. Dibelikan handphone tapi tak dilengkapi fitur MP3 dan kamera, masih ngambek juga. Punya HP berkamera, malah dipakai merekam adegan porno bersama temannya. Itu sungguh tak berkaitan dengan kurikulum atau sistem pendidikan kita. Tapi, sangat nyata sebagai wajah kehidupan siswa di sekolahan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sering kita mendengar cerita seorang anak yang mogok sekolah karena tak dibelikan sepeda motor oleh orang tuanya. Sementara orang tuanya memang benar-benar tak mampu membelikan. Pada level yang lebih tinggi, seorang pelajar SMA bisa stres berat gara-gara mobilnya kalah keren dari temannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dalam Rich Dad Poor Dad karangan Robert T. Kiyosaki yang begitu laris dan menggemparkan, bicara tentang sekolah hingga setinggi-tingginya, menjadi kutu buku, berkacamata minus tebal, bergelar banyak adalah hal percuma saja. Sepanjang kita tak sukses mencari dan menghasilkan banyak uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Kiyosaki, antara sekolah dan kepintaran mencari duit ibarat sebuah jalan yang ujungnya terbelah menjadi dua. Jalur yang satu menuju sekolah hingga setinggi dan sepandai-pandainya, jalur yang satu lagi adalah rute mencari uang sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Rich Dad (ayah kaya) dalam buku itu, betapa kasihan seorang profesor doktor yang semua waktunya dihabiskan untuk sekolah hingga lupa cara mencari duit. Tiap bulan menerima gaji kecil dan sepanjang hidup dia jalani dengan uang pas-pasan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang tua anak saya yang sedang mencari sekolah, rasanya saya tidak terprovokasi Rich Dad Poor Dad karangan Kiyosaki yang begitu menarik dan menghasut itu. Tapi, sekarang saya memang sedang bingung memikirkan ke mana anak saya harus masuk sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ribet kalau sebagai orang tua juga harus ikut memikirkan sistem pendidikan kita yang memang tak kunjung membaik itu. Maka, pilihannya adalah menyekolahkan anak ke sekolah berstandar internasional yang pasti mahal. Tapi, seratus juta rupiah sebagai uang sumbangan juga bukan jumlah yang gampang didapat. Lagian, saya juga tidak hobi golf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya bingung mencari sekolah seperti itu, sungguh saya membayangkan anak saya bersekolah di SD inpres seperti saya dulu. Tiap pagi berjalan kaki tanpa sepatu dari rumah ke sekolah yang jaraknya lebih dari empat kilometer. Melewati pematang sawah, sepulang sekolah langsung nyebur ke kali tanpa perlu melepas celana dan baju. Ohoi... ndeso sekaligus katrok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni bulan depan adalah bulan penerimaan rapor untuk para siswa. Betapa banyak orang tua yang bakal memarahi anaknya karena nilai merah atau ranking-nya turun. Terus terang, saya juga telah membayangkan rapor anak saya yang sekarang baru mau masuk SD itu. Saya seperti bernostalgia ketika melihat nilai rapornya yang funky karena begitu banyak nilai merahnya. He he... persis rapor bapaknya ketika sekolah dulu! (leak@jawapos.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-8905404724314261755?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/8905404724314261755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/musim-mencari-sekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/8905404724314261755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/8905404724314261755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/musim-mencari-sekolah.html' title='Musim Mencari Sekolah'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-5542979804931941844</id><published>2011-07-06T00:31:00.001-07:00</published><updated>2011-07-06T00:31:12.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Musim Coblosan Masih Jauh</title><content type='html'>Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan bisa seperti air laut. Begitu banyak orang kecebur dan karena itu pula para penenggak kekuasaan cenderung kehausan lalu ingin nambah dan nambah lagi. Fenomena haus dan ingin terus nambah itu seperti kian menjadi-jadi. Sialnya, kita malah seperti tidak ambil pusing pada penyakit para pemilik jabatan yang sesungguhnya sangat merugikan itu. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah situasi kita sekarang. Situasi di mana sebuah tindakan, keputusan, atau kebijakan selalu dipertimbangkan atas: apa untung ruginya bagi prospek jabatan saya mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang menjabat sebagai wakil yang semestinya merasa wajib membantu atau setidaknya bekerja sama dengan atasannya justru terang-terangan menunjukkan sikap berbeda, kalau perlu malah berseberangan. Aksi mempertontonkan sikap "beda" seperti ini, meski di mata rakyat agak menyebalkan, tapi oleh para pemilik sikap tersebut selalu dijalankan dengan penuh kalkulasi. Lebih baik berseberangan tapi tambah populer ketimbang tidak terdengar suaranya sama sekali. Jadi, sikap sok beda juga bisa menjadi semacam investasi secara politis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal begini sebenarnya tak lebih dari sebuah trik untuk menelikung atau teknik menyalip di tikungan, atau apalah istilahnya, guna mencari perhatian. Tapi yang jelas, keterampilan para kandidat yang berancang-ancang berebut kursi atau berupaya memperpanjang durasi kekuasaan itu kian hari kian terasah saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap waktu, kita seperti menyaksikan sebuah proses tiwikrama berkepanjangan, upaya meng-up grade kekuatan dan popularitas, seperti Kresna yang berusaha menjadi raksasa di Alun-Alun Astina. Celakanya, kebanyakan kandidat calon pemilik kursi itu adalah para pejabat yang berstatus pegawai negeri aktif yang setiap hari semestinya mengabdikan diri dan bekerja bagi masyarakat yang menggajinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu bukan pejabat Indonesia kalau sampai gagal menyiasati cara. Maka, di mana-mana, kita bisa gampang menyaksikan cawan-cawan kekuasaan itu seperti hendak direguk lewat selubung cara yang sangat kreatif. Saya, misalnya, pernah kecele berat ketika pada satu malam Minggu mendatangi sebuah pertunjukan wayang kulit di lapangan terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari betapa tak gampang menyerap petuah -petuah kuno yang tersamar, saya melapangkan pikiran agar menjadi jendela pitutur luhur dari jagat pewayangan selama semalaman. Kiai Semar tampil paling dominan dalam pertunjukan malam itu. Bijaksana, sabar, netral, pamomong, dan tentu tidak mata duitan. Maklum, lakonnya memang Semar mBangun Kahyangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin saya kecele, yang digambarkan sebagai Kiai Semar nan arif bijaksana tiada tara dalam pertunjukan semalam suntuk itu ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah ki dalang sendiri. Hehehe... batobat soto babat campur kawat. Duh, jagat Dewa Bathara... Saya tertipu! Yang saya dengarkan semalam suntuk itu ternyata sebuah kampanye calon gubernur belaka! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, terhadap lakon sejenis yang berpotensi ditunggangi laku politik seperti Semar mBeber Jati Diri, terus terang saya jadi trauma untuk menontonnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar tak diserang rasa kantuk, para penonton wayang biasanya ditemani kopi panas dan camilan kacang. Nah, terutama bagi yang sudah cukup umur, selalu ingatlah terhadap kerentanan badan serta pikiran. Selain berpotensi menyerang asam urat, camilan kacang juga bisa membuat nama seorang kandidat calon gubernur terus terngiang-ngiang. Nggih mboten, Pak De?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terselubung memang. Tapi, praktik-praktik seperti itu tetaplah kampanye namanya. Sebuah kampanye yang dipraktikkan saat orang semestinya bekerja dan bekerja tentulah pelanggaran. Kampanye boleh, tapi bila waktunya telah tiba. Begitu kreatifnya sebuah selubung kampanye dibuat, lantas panitia pengawas pemilihan pun -baik pemilihan gubernur, bupati, lurah, wali kota, DPR maupun presiden- akhirnya tak bisa berbuat apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, jelas-jelas para kandidat yang berstatus sebagai pegawai negeri aktif, bahkan presiden aktif itu, terus-menerus sibuk menebar pesona dan berpromo diri, hingga sering mengesampingkan pekerjaan semestinya. Bagi para pengejar kekuasaan, jabatan ternyata menjadi suatu kebutuhan yang dirasa begitu mendesak. Bagi mereka, lima tahun adalah waktu yang dianggap begitu pendeknya. Karena itu, yang ada hanya tujuan-tujuan jangka pendek: jabatan harus segera ada di tangan, kalau perlu secepatnya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita bisa saja meremehkan program Repelita yang dulu digagas dan dijalankan Pak Harto. Karena pembangunan berjangka lima tahunan itu toh akhirnya kita simpulkan sebagai program akal-akalan yang hanya dipakai untuk melanggengkan kekuasaan Orde Baru. Tapi lepas dari prasangka seperti itu, Repelita adalah contoh baik bahwa dalam hidup bersama kita butuh garis rencana yang jelas sebagai panduan berusaha, mengejar, dan bekerja untuk jangka waktu kedepan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa sebuah rencana ternyata bisa meleset atau gagal, itu lain soal. Itu masih lebih bisa dinalar ketimbang dari lima tahun ke lima tahun berikutnya tidak jelas kerjanya apa, dan maunya apa. Dari hari ke hari kerjanya kampanyeeeee... melulu. Sementara musim coblosan masih begitu jauhnya.(leak@jawapos.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-5542979804931941844?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/5542979804931941844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/musim-coblosan-masih-jauh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/5542979804931941844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/5542979804931941844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/musim-coblosan-masih-jauh.html' title='Musim Coblosan Masih Jauh'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-5286614888951353572</id><published>2011-07-06T00:30:00.002-07:00</published><updated>2011-07-06T00:30:41.677-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Lentera dari Medaeng</title><content type='html'>LEAK KOESTIYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GELAP bisa menyergap siapa saja secara tiba-tiba. Gelap juga bisa disebabkan apa saja. Listrik padam, rembulan tertutup ilalang, atau bintang-bintang yang tibatiba menghilang karena terhalang mega. Tapi, gelap jenis begini adalah gelap dalam kategori biasa. Artinya, ketika di sebuah tempat atau ruangan sedang gelap, sebenarnya ada banyak hal yang masih bisa kita lakukan. Malah, bagi sebagian orang, gelap justru unsur teramat penting untuk membangun romantika. Tentu itu jenis gelap yang disengaja. Sebab, dalam gelap toh masih bisa saling raba...&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelap yang sesungguh-sungguhnya adalah ketika mata dan hati kita seperti tidak melihat apa-apa. Tidak ada cahaya. Semua serasa serba pekat dan buntu, gulita di mana-mana. Dalam situasi sedang tidak bisa melihat apaapa itulah, secercah cahaya betul-betul kita butuhkan untuk menerangi mata dan hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu saya seperti mendapat kiriman seberkas cahaya. Cahaya itu berwujud sebuah majalah sederhana yang saya dapati di meja kerja. Tak terlalu tebal, hanya 12 halaman. Lentera Medaeng nama majalah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari namanya, terutama kita yang tinggal di Surabaya, pasti tahu bahwa majalah itu berhubungan erat dengan penjara dan narapidana. Sebab, Medaeng adalah nama yang kelewat sering kita sebut dan kita dengar. Medaeng memang penjara, hotel prodeo kelas satu di Surabaya. Meski tipis, Lentera Medaeng punya filosofi dalam: menerangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, saya sempat tertegun, kok bisa para narapidana menerbitkan majalah seperti para mahasiswa menerbitkan pers kampus. Eh ternyata, setelah saya amat-amati, Lentera Medaeng digarap para narapidana intelek juga. Ada dokter, psikolog, sarjana hukum, insinyur, dan lainlain. Hanya, secara kebetulan mereka sedang menjadi narapidana dan dipenjara. Pendeknya, para narapidana yang menggarap Lentera Medaeng itu adalah para lulusan kampus tapi sekarang ngekos di Medaeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan LM Corp, para pengasuh majalah itu meminta para pembacanya memanggil dengan sebutan singkat: LM. Seperti Anda memanggil JP untuk Jawa Pos, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai SBY, atau Maria Eva cukup dengan ME. Biar simpel. Begitu simpelnya majalah itu, tak satu pun artikel terlewatkan untuk saya baca. Editorial dari redaksi, surat pembaca, rubrik konsultasi, galeri foto-foto, semua menarik. Menarik bukan karena ketajaman ulasan atau kedalaman isinya, tapi kesederhanaannya. Mungkin, kesederhanaan adalah hal yang mulai susah kita dapati pada media umum yang setiap hari membanjir di kios-kios dan pinggir-pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya majalah umum dengan LM misalnya, majalah umum hanya saya baca rubrik-rubriknya. Selebihnya, majalah umum tak lebih dari seonggok kertas yang segera melompat ke kotak sampah. Karena kenyataannya, belum sempat satu edisi dibaca, sudah keburu datang edisi berikutnya yang lebih baru. Majalah-majalah itu hanya kunikmati sampul-sampulnya, sebelum dibuang. Lentera Medaeng sungguh merangsang saya untuk membaca mulai halaman depan hingga terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di zaman Orde Baru kita mengenal istilah "pers yang terpenjara," kali ini kita mendapati pers bebas dari penjara. Ohoi..bantal atos dipan keropos. Betapa liris bait puisi-puisi itu. Betapa mengharukan keluh kesah di rubrik konsultasi. Kartun-kartun menampilkan kelucuan satiris tentang hidup yang lagi berantakan dan jeblok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca budiman, sebagai manusia, saya mengakui. Para pengelola, lay outer, ilustrator, kartunis, penulis puisi, maupun reporter Lentera Medaeng adalah saudara-saudara kita yang sesungguhnya. Sebagian di antara mereka malah para pendahulu saya di Jawa Pos. Bahwa sekarang mereka sedang butuh lentera, itu tak lebih karena pada satu waktu mereka pernah mengalami masamasa seperti tak ada cahaya. Betul-betul gulita. Lalu bertindak keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kepada saudara-saudaraku: Kak Kresno Mulyadi di blok-E, Om Yedi, Pak Tio KP di blok A, Cak Ferdy di blok G, Om Tony di blok H, dr Willy Sabuana, Alung di blok F, Chris di blok A, Bambang Ilustrator di blok C-6, dan semuanya yang sekarang lagi mondok, tak usahlah terlalu berlama-lama mengurus majalah itu. Bukannya media yang beredar di luar tembok penjara itu takut tersaingi. Tapi ketahuilah, tempat terbaikmu sesungguhnya bukanlah ruangan berterali. Ketika hati telah kembali terang, keluargamu adalah tempatmu. Istri dan anak-anakmu adalah hamparan taman bunga dengan segenap embun dan keindahannya. Segeralah kembali pulang. Tinggalkan tempat itu. Biarlah Medaeng yang sumpek itu kosong tak berpenghuni. Ketahuilah saudaraku, di depan pintu keluar, kita semua senantiasa menunggumu. Menunggumu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-5286614888951353572?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/5286614888951353572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/lentera-dari-medaeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/5286614888951353572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/5286614888951353572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/lentera-dari-medaeng.html' title='Lentera dari Medaeng'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-180671963593066672</id><published>2011-07-06T00:30:00.000-07:00</published><updated>2011-07-06T00:30:01.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Komedi tentang Presiden</title><content type='html'>Kolom Leak Koestiya&lt;br /&gt;Senyum atau tawa sebenarnya menyehatkan. Sepanjang, senyum atau tawa itu muncul dari humor yang dibuat tanpa tendensi untuk menyakiti. Di saat suasana lagi sumpek dan menegangkan, humor sebenarnya makin kita butuhkan. Tapi, dalam situasi seperti itu, humor juga harus dibuat dengan segenap kehati-hatian. Sebab disaat orang sedang sensi banyolan juga bisa memancing ketersinggungan dan bahkan kemarahan. Apakah benar ada jenis humor yang menyakiti itu? &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Banyak. Malah tak sedikit humor yang sekarang beredar di pasaran dibuat tanpa mengindahkan rasa. Yang penting orang tertawa, selesai. Bahwa ada orang atau fihak yang terluka atau mungkin malah dihinakan, itu jarang jadi pertimbangan. Itulah kenapa ada ungkapan misalnya: senyum yang membuat luka, tawa di atas derita, dan seterusnya. Begitu banyak orang tertawa untuk sesuatu yang sangat tidak lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah yang baik kehidupan etik humornya, lelucon dibuat dengan pertimbangan njelimet. Di sini, di acara-acara lawakan televisi, kita sangat kenyang dengan umpatan-umpatan semisal: dasar wong ireng! (dasar kulitnya hitam), dasar pembantu!, gemuk kayak gajah, keriting sarang nyamuk, monyong bemo, dan seterusnya. Fisik dan status sosial seseorang menjadi bahan ketawaan. Tak pernah memang, kita mendengar somasi dari seorang pembantu rumah tangga karena kaum itu jadi bahan olok-olok di lawakan televisi. Tapi cobalah kita rasakan. Ekspresi senyum macam apa yang bisa keluar dari wajah kaum lemah itu ketika humor jenis begini mereka saksikan di depan mata. Di Amerika, mengucapkan "item lu.." bisa berurusan dengan pengadilan dan masuk bui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang betul, lucu di sana belum tentu lucu di sini. Tapi humor yang baik mestinya berlaku umum. Artinya, ketika sebuah ungkapan dirasa menyakitkan di belahan bumi sana, sebenarnya juga menyakitkan di sini. Cobalah tanyakan saudara-saudara kita di Papua apakah ungkapan "item lu.." yang biasa kita jumpai di acara lawak televisi juga lucu buat mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, parameter etik humor kita seperti lagi hangat diperbincangkan. Agaknya, Menkominfo Sofyan Djalil kurang berkenan dengan acara berlabel Republik Mimpi di Metro TV. Di acara ini para pemimpin dari jaman Pak Harto sampai SBY dimunculkan dalam tokoh-tokoh look alike. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti faham akan rasa tidak enak yang sekarang dirasakan Menkominfo. Bagaimana mungkin SBY yang notabene adalah tuan-nya itu dipresentasikan sebagai presiden dalam Republik Mimpi yang menjukkan kedunguan dan bahkan cenderung bego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Butet Yogya, Jarwo Kuwat, Gus Pur dan lainnya adalah tokoh-tokoh Republik Mimpi yang nama-namanya merupakan plesetan dari SBY, JK, Gus Dur, Megawati, Habibie, dan juga Pak Harto. Jusuf Kalla konon telah memberi keterangan bahwa dirinya tak keberatan dengan acara komedi itu. Meski Ucup Kelik, waktu itu, membawakan diri persis Kalla. Tapi terhadap apa yang dikatakan Wapres RI ini saya lebih memilih untuk curiga: dalam hati Pak Kalla siapa tahu? Kabar terakhir, Gus Dur yang agaknya betul-betul tak terima dan akan menentang jika acara komedi itu ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu belum lupa, di era kekuasaan Orba yang menghimpit dan sumpek dulu, kita masih bisa acap tersenyum karena mendapat siraman humor dari joke-joke Gus Dur yang sangat menghibur. Tapi kita juga jangan gampang lupa, karena begitu Gus Dur naik tahta menjadi presiden, humor tentang Gus Dur sontak berubah menjadi begitu sensitifnya. Miing dan kawan-kawan yang tergabung dalam grup lawak Bagito terpaksa harus meminta maaf kepada para pemirsa karena memerankan diri sebagai Gus Dur di televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal humor, Gus Dur adalah fenomena. Kadang begitu politisnya, kadang begitu absurdnya. Tapi kalau dipikir-pikir sama lucunya. Hingga kita sering tak faham apakah Gus Dur sedang melawak atau sedang berdiplomasi politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa Orde Baru, Gus Dur adalah satu-satunya orang di negeri ini yang berani mentertawakan kekuasaan Pak Harto dengan aman dan terbuka. Padahal orang lain harus berurusan dengan polisi lalu masuk Cipinang dan Nusakambangan jika melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai presiden yang humoris Gus Dur adalah kekecualian. Tapi melucu secara sehat dan beretika di saat yang tepat tetaplah tidak gampang. Maka meski Gus Dur berusaha lucu saat jadi presiden beliau tetap harus menerima kenyataan pahit: diberhentikan di tengah jalan. Sekarang, meski Republik Mimpi dianggap memancing tawa ia pun terancam tutup di tengah jalan karena ancaman somasi. Melucu yang tidak menyakitkan fihak lain seperti Thukul Arawana memang tak gampang. Haha..(leak@jawapos.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-180671963593066672?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/180671963593066672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/komedi-tentang-presiden.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/180671963593066672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/180671963593066672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/komedi-tentang-presiden.html' title='Komedi tentang Presiden'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-6146734202419056665</id><published>2011-07-06T00:28:00.001-07:00</published><updated>2011-07-06T00:28:33.529-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Johnny Ringo Jatinangor</title><content type='html'>Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu sebuah kekuatan untuk melihat tayangan di televisi dan membaca berita penyiksaan para praja IPDN di Jatinangor. Kita juga perlu kekuatan lain untuk bisa menerima kenyataan bahwa nyawa para praja yang melayang karena ditendang, disaduk, diinjak, dipukul, ditempeleng, dikepruk, dikeroyok, dan dihajar ramai-ramai telah begitu banyak jumlahnya. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1993 saja, sedikitnya 17 praja telah dicabut nyawanya oleh para jagal Jatinangor yang notabene adalah kakak-kakak kelas dan pengasuh mereka. Praja-praja senior itu membunuh adik-adiknya sendiri dengan semangat hura-hura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka seperti burung-burung bangkai yang berpesta dengan tumit sepatu keras yang diayunkan ke ulu hati para junior dengan sekuat tenaga. Ketika praja-praja baru itu terhuyung kesakitan, diinjaklah tengkuk dan punggungnya, hingga organ-organ dalam tubuhnya remuk dan rintihan dari bibirnya yang membiru betul-betul tak bisa didengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di IPDN Jatinangor, kebiadaban tersebut bisa dijalankan begitu sempurnanya atas dalih menempa kedisiplinan. Dengan alasan mendidik, Cliff Muntu, seorang pemuda yang datang dari Sulawesi Utara nan jauh, bisa dipulangkan dalam kotak peti mati dan tubuh telah terbujur kaku. Memar pada otaknya, dada, limfa, paru-paru, kemaluan, dan ginjalnya berdarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah rakyat Indonesia sebelah mana yang menginginkan seorang pamong praja yang kepalanya sekeras besi dan dadanya sekuat lempengan baja seperti yang dididik di Jatinangor. Begitu rapinya sistem penghilangan nyawa di sana, bahkan tim forensik dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, pun kesulitan mengungkap penyebab kematian. Sebab, setelah pesta penganiayaan itu, tubuh Cliff disuntik cairan formalin untuk mengaburkan penyebab kematian atas instruksi rektorat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu terlalu jauh ke Guantanamo jika hendak melihat sisi terkejam dari sebuah aksi penyiksaan. Di Jatinangor, Sumedang, mayat seorang praja bisa dikirim ke kampung halamannya, ke orang tuanya, dalam peti mati yang dipaku rapat dengan pesan: langsung dikubur saja karena mayatnya sudah bau busuk! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah rakyat Indonesia mana yang menginginkan seorang camat yang ulu hatinya tak mempan tonjok dan bebal oleh ketukan kata-kata. Begitu tangguhnya kah para lulusan dari Jatinangor itu hingga 10 praja yang terbukti membunuh Wahyu Hidayat pun tetap bebas dan bisa menjadi pegawai Pemda? Dan, mantan rektor IPDN I Nyoman Sumardi menyebut thriller di kampusnya itu sebagai ulah oknum semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IPDN adalah institusi pendidikan legal, berkurikulum, serta ternama. Ia bukan tempat tersembunyi dimana para penganut aliran sesat yang punya ritual nyeleneh untuk menyongsong hari akhir. Terlalu sederhana kalau lembaga pendidikan tersebut digambarkan sebagai seorang psikopat yang kebetulan terselip dalam komunitas masyarakat luas yang normal. Betapa sulit diterima oleh akal, ada sebuah sistem pendidikan yang di dalamnya memaklumi berbagai kelakuan keji dan pencabutan nyawa-nyawa anak didiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa lalu, dalam kehidupan koboi yang barbar dan jauh dari pasal-pasal hukum, menghilangkan nyawa seorang musuh tanpa alasan yang jelas adalah kelakuan yang menjijikkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jatinangor, pada zaman semaju ini, praja-praja baru bisa disuruh baris berjejer dengan tangan di belakang, lalu empedu dan limfanya dikoyak dengan cara dada serta lambung mereka ditendang berkali-kali. Tanpa boleh melawan. Sebab, kau, praja-praja baru, nanti boleh melakukan kekejian yang sama. Tapi, harus sabar. Sebab, praja-praja yang lugu itu bakal berubah menjadi bengis dengan sendirinya ketika saatnya tiba. Ketika mereka telah menjadi senior. Dan, kau bakal gantian menginjak, memukul, serta menendang juniormu! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di IPDN Jatinangor, luka dan sakit hati bagai sebuah lingkaran rantai panjang yang terus beregenerasi. Maka, benar adanya jika keinginan menghilangkan kebiasaan bengis di lingkungan IPDN adalah tak lebih dari omong kosong belaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Unknown Destiny, novel karya Jason McCord, kebiasaan membunuh orang dengan tujuan yang tak jelas tersebut dijalani oleh seorang koboi sinting bernama Johnny Ringo. Terhadap orang yang tak bersalah dan bahkan telah sekarat pun, Ringo tetap tega menginjak tengkuknya untuk selanjutnya menarik pelatuk untuk mencabut nyawa. Wyatt Earp dan Doc Holliday adalah dua bersahabat yang berusaha menghentikan kelakuan biadab Ringo. Tapi, betapa sulitnya. Sebab, bagi Ringo, kebiasaan membunuh sudah dianggap semacam takdir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inu Kencana, dosen IPDN yang diskors pihak rektorat karena membeber kematian Wahyu Hidayat (1993) dan Cliff Muntu, mencatat ada 37 praja yang telah menemui ajal di Kampus IPDN dengan penyebab tak wajar. Inu juga mencatat, misalnya, pada Mei 1993, ada seorang praja bernama Aliyan terjatuh dari lantai atas saat menyiram bunga. Aliyan menderita gegar otak. Namun, saat berobat ke klinik, dia justru dipukuli pengasuhnya hingga meninggal karena dianggap cengeng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiadaban di IPDN Jatinangor bukanlah ulah seorang yang sakit jiwa seperti Johnny Ringo saja. Kebiadaban di kampus itu hidup subur lestari karena ideologi kekerasan dijalankan turun-temurun serta terstruktur hingga menjadi sebuah kultur. Menurut Doc Holliday, orang sinting seperti Ringo itu ibarat sebuah bejana yang tak penuh isinya. Ada semacam rongga di kepalanya yang tak pernah bisa penuh. Meski, telah sekian banyak orang binasa karena kebiadabannya. Kata orang Jawa: koplak ndase. Yang bisa menghentikan hanyalah ajal yang menjemputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 37 praja telah diregang nyawanya di Jatinangor. IPDN adalah Johnny Ringo dalam bentuknya yang lain. Sekarang: ditutup, dibubarkan, atau biarkn saja para praja meneruskan hura-hura kekejiannya sebelum akhirnya menjadi camat, ajudan, atau abdi negara lainnya. Sejujurnya, rakyat sudah tak pernah bermimpi nenpunyai pemimpin yang bersih, tegas, disiplin, jujur, tidak korupsi, dan tidak doyan pungli seperti dalam teori-teori. Rakyat telah terbiasa digusur, dicurangi, hidup di tenda pengungsi, dan diintimidasi. Diracun seperti Munir pun, paling-paling cuma mati. (leak@jawapos.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-6146734202419056665?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/6146734202419056665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/johnny-ringo-jatinangor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/6146734202419056665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/6146734202419056665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/johnny-ringo-jatinangor.html' title='Johnny Ringo Jatinangor'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-4443973190672945916</id><published>2011-07-06T00:26:00.000-07:00</published><updated>2011-07-06T00:26:12.957-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Jeda</title><content type='html'>Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaya Suprana pernah mencoba memberi pelajaran tentang arti penting sebuah jeda. Bos Jamu Jago ini menyelipkan esensi empty space di awal konser pianonya yang digelar pada awal tahun sembilan puluhan di Semarang. Waktu itu, ketika hall pertunjukan telah hening dan semua audience telah siap menerima alunan denting piano, Jaya Suprana memecah keheningan ruangan dengan satu pencetan tuts piano saja. Setelah itu, berhenti. Ruangan jadi hening seketika untuk beberapa lama, penonton pada bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kelirumolog yang pintar berhumor itu lantas mengguyur seluruh ruangan dengan buih-buih nada lewat jemarinya yang menari memainkan tuts-tuts piano. Kenapa Jaya Suprana berhenti untuk beberapa saat setelah menekan tuts piano di awal pertunjukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya memang terjawab setelah konser usai. Katanya, orang telah punya persepsi yang keliru terhadap jeda. Jeda sering dipahami sebagai sebuah kekosongan belaka. Padahal, menurut Jaya Suprana, sebuah irama bisa terbentuk karena ada jeda antara nada yang satu dengan nada lain. Dalam kosong sebenarnya akan ada isi dan arti kalau kita bisa memaknai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di kota besar adalah hidup dengan irama nonstop, sibuk, pekak, cenderung keras, dan seperti tanpa jeda. Berangkat kerja pagi-pagi, berdesakan di jalan, bersaing di kantor, lembur, tidur sebentar, lalu pagi lagi, kerja lagi. Ketika datang jeda pada saat cuti, misalnya, kita mungkin pergi ke tempat terpencil yang jauh. Tapi, tetap dengan laptop yang terus terkoneksi dengan internet dan dengan jaminan jangkauan sinyal operator seluler. Maka, di bungalow yang sunyi itu kita tetap dalam koneksi modernitas yang terus terhubung. Tetap bisa in touch dengan progress pekerjaan, balas email, buka portal news, dan seterusnya. Cuti tapi sibuk. Bahkan, ada yang bersyukur karena diopname di rumah sakit. He he... Lumayan bisa tiduran sambil baca-baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta lebih-lebih lagi. Orang bisa ngomel-ngomel lantaran terjebak kemacetan di jalan tol, padahal matahari belum terbit. Siang hari marah-marah lagi. Sebab, gagal menemui relasi karena di jalan berpapasan dengan iring-iringan demonstran. Beberapa bulan terakhir Jakarta telah menunjukkan irama hidup keseharian yang menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika datang week end, semua ruas jalan di ibu kota sungguh mirip garasi panjang yang penuh sesak. Jalanan penuh mobil, tapi nyaris tak beringsut ke mana-mana. Pada Jumat orang beramai-ramai ingin meninggalkan Jakarta untuk berlibur ke mana saja. Mereka semua butuh semacam jeda. Tapi, lama-lama makin susah didapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kerja lembur hingga jam sembilan malam, para workaholic ingin mengubur kepenatan dengan mendatangi tempat-tempat dugem yang bertebaran di mana-mana. Tapi, tempat-tempat dugem itu baru buka menjelang tengah malam. Artinya, ada jeda waktu kira-kira tiga jam mulai pukul sembilan hingga pukul dua belas malam yang mereka anggap percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeda inilah yang dibidik Cilandak Town Square (orang Jakarte menyebutnye Citos) sebagai pasar baru dari sebuah fenomena kebutuhan hidup modern di Jakarta. Kafe-kafe di mal itu dibuka hingga tengah malam agar orang bisa nongkrong guna menyambung ritme kerja lembur dan dugem sampai pagi. Di Jakarta, selama dua puluh empat jam semua bisa penuh terisi. Tanpa ada jeda, tanpa ada sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jagat kelir pewayangan, selalu ada jeda di tengah pertikaian antara Pandawa dan Kurawa yang suntuk dan bertele-tele. Di saat jeda tiba, akan muncul Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong dengan segala keleluasaannya. Punakawan itu muncul untuk memaknai apa arti jeda yang sebenarnya. Mereka bercanda sambil mengkritik dan mengevaluasi bendoronya. Semua bisa guyon tanpa ketersinggungan apa-apa. Jeda di sini saling dipakai untuk melihat siapa masing-masing dari kita sebenarnya, apa yang telah kita lakukan. Masa jeda ini dimaknai sebagai sebuah interlude (selingan) yang memang menjadi kebutuhan bersama. Perjalanan masih berliku-liku dan panjang. Perang melawan korupsi, ketidakadilan belumlah berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam minggu ini konon akan ada reshuffle kabinet sebagai jawaban atas pertanyaan akan kinerja Presiden SBY. Reshuffle adalah semacam jeda di tengah lima tahun kepemimpinan presiden asal Pacitan itu. Sebagai rakyat, kita sebenarnya hanya ingin melihat jeda itu menjadi semacam ruang kosong yang memungkinkan semua bendoro kita untuk sejenak saling melihat diri masing-masing. Tanpa perlu ada ketersinggungan jika dievaluasi, tanpa perlu berontak kalau harus menanggalkan predikat menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau reshuffle sekadar tukar-menukar posisi, pemerataan jatah jadi menteri, kita pasti tak akan mendapatkan makna apa-apa dari jeda lima tahun pemerintahan SBY kali ini. Cuma omong kosong belaka. (leak@jawapos.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-4443973190672945916?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/4443973190672945916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/jeda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/4443973190672945916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/4443973190672945916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/jeda.html' title='Jeda'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-2178221211170873548</id><published>2011-07-06T00:25:00.001-07:00</published><updated>2011-07-06T00:25:07.891-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Jangan Sebut Ini Musibah</title><content type='html'>Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah iklan agak lama yang dimuat di harian Wall Street Journal. Pemasangnya adalah maskapai tetangga dekat kita, Singapore Airline (SIA). Dalam iklan itu digambarkan, ada seorang gadis kecil sedang meniup lilin ulang tahun di atas kue tar. Lilin itu ada lima. Artinya, gadis imut tersebut sekarang telah berusia lima tahun. Kalau tak salah dalam iklan itu tertulis pesan, "Bagi Kami, Ini Adalah Ulang Tahun Terakhir." &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Sebab, Singapore Airline tak akan merayakan ulang tahun pesawatnya yang berusia enam tahun ke atas. Lima tahun enam bulan adalah batas tertua untuk semua pesawatnya. Belum genap enam tahun , pesawat-pesawatnya akan berubah status menjadi pesawat second hand yang harus dilego kepada maskapai lain yang koceknya terlalu cekak untuk membeli pesawat baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, ada banyak alasan mengapa SIA hanya mau mengoperasikan pesawat baru. Salah satu alasannya adalah demi kenyamanan serta keamanan. Bagi SIA, kenyamanan memang sesuatu yang mahal. Keamanan tentu lebih mahal. Sebab, keamanan yang dimaksud SIA adalah nyawa para penumpang. Tapi, toh SIA tetap tak luput dari musibah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, musibah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, adalah peristiwa menyedihkan yang terjadi secara tiba-tiba. SIA harus mengalami kejadian amat sedih secara tiba-tiba. Pada 31 Oktober 2000, satu armadanya tersandung semacam peralatan konstruksi di pinggir jalur pacu di Bandara Chiang Kai-Shek, Taiwan. Bandara tersebut memang sedang diperbaiki saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kelalaian pekerja bangunan, SIA harus berduka amat dalam, demikian juga dengan keluarga para korban. Musibah tersebut rasanya pas dengan yang didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kejadian menyedihkan terjadi begitu tiba-tiba. Oleh SIA, musibah tersebut tercatat sebagai satu-satunya musibah sejak maskapai itu menerbangkan pesawat pertamanya pada 1 Oktober 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita begitu rutin mendapat musibah. Di bidang perkeretaapian, misalnya, kita mempunyai begitu banyak jenis musibah. Kereta anjlok dari rel, kereta bertabrakan, kereta menabrak rombongan pengantin di perlintasan, rangkaian gerbong lepas, gerbong ambrol karena atapnya dimuati sekian banyak penumpang. Malah belum lama ini. Serangkaian kereta melaju mundur dengan kecepatan tinggi dari Malang ke Surabaya karena dikemudikan orang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung tahun kemarin, ratusan nyawa melayang karena tak kurang dari enam kapal penyeberangan dari berbagai ukuran harus tenggelam ke dasar lautan Indonesia dalam tempo tiga hari. Rata-rata kita menuduh cuaca yang kurang bersahabat sebagai penyebab musibah. Tapi salah seorang penumpang kapal Senopati yang lolos dari maut setelah tiga hari terapung-apungdan sekujur tubuhnya gripis dimakan ikan, memberikan kesaksian yang berbeda. Senopati dimuati terlalu banyak penumpang dan dan alat berat. Lalu ketika ombak besar datang, kapal begitu gampang oleng dan tenggelam. Bahwa cuaca sedang buruk, iya. Tapi bahwa kapal Senopati tak punya cukup sekoci untuk penumpangnya, tak bisalah dibenarkan. Dan ketika kapal hendak menyelam kedasar laut ABK cuma bisa menghimbau agar semua penumpangnya berdoa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal musibah dan kualitas pesawat udara, kita punya anekdot yang begitu mencemaskan. Suatu hari Fidel Castro dan seorang jenderalnya yang menjabat Kepala Staf Angkatan Darat berjaga-jaga di perbatasan Kuba. Ketika terlihat sebuah pesawat memasuki wilayahnya tanpa izin, sang Jenderal langsung diperintahkan Castro untuk menembak pesawat itu. Benar, sekali tembak pesawat jatuh. Oh, ternyata pesawat milik Amerika. Tak lama berselang datang lagi pesawat asing yang memasuki wilayah teritorial Kuba. Sang jenderal segera mengokang senjata hendak segera menembak. Tapi, "tunggu! Itu pesawat sepertinya milik Indonesia," kata Castro. "Terus kenapa kalau dari Indonesia nggak boleh ditembak?" tanya sang jenderal penasaran. "Nggak usah ditembak juga nanti jatuh sendiri..," kata Castro. Ohoi... blek kerupuk ditekuk-tekuk. Betapa murah harga nyawa penumpang pesawat di negeri kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita masih ingat, musibah yang menimpa Lion Air yang nyungsep di tengah kuburan di Solo. Di Medan, Mandala Airline gagal take-off lalu jatuh menimpa pemukiman padat penduduk. Usut punya usut pesawat ini terlalu banyak membawa durian. Saya pernah mengalami kejadian ganjil. Dalam penerbangan dari Makssar ke Manado, rambut saya basah kuyup seperti habis keramas. Karena lobang AC persis di atas kepala saya meneteskan air sepanjang penerbangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi koran, pesawat tergelincir sudah dianggap berita yang tak layak muat. Karena memang begitu seringnya pesawat meluncur ke luar landasan karena ban yang aus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, 96 nyawa penumpang Adam Air dengan nomor penerbangan KI 574 yang terbang dari Surabaya menuju Manado bagai lenyap ditelan bumi. Pesawat jatuh itu menyedihkan, tapi pesawat jatuh dan tak ketahuan rimbanya adalah kesedihan yang betul-betul menyedihkan. Masih kurang? Maka disiarkanlah kabar bohong bahwa bangkai pesawat telah ditemukan dan beberapa penumpangnya selamat. Betapa kita terus bertanbah sedih dan sedih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kesedihan itu datang terus-menerus, sementara sinyal peringatan akan datangnya musibah yang ditandai AC bocor, lilin ulang tahun pesawat yang begitu banyaknya, roda pesawat yang telah aus tapi tak juga diganti, apakah kecelakaan demi kecelakaan ini layak didefinisikan sebagai kesedihan yang datang secara tiba-tiba? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya kita harus menemukan istilah baru yang lebih cocok untuk kesedihan kita yang begitu bertumpuk-tumpuk dan datang sangat terencana ini. (leak@jawapos.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-2178221211170873548?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/2178221211170873548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/jangan-sebut-ini-musibah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/2178221211170873548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/2178221211170873548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/07/jangan-sebut-ini-musibah.html' title='Jangan Sebut Ini Musibah'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-1042141370435610798</id><published>2011-06-23T11:47:00.002-07:00</published><updated>2011-06-23T23:58:52.630-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Yang Muda Yang Bahagia</title><content type='html'>Oleh: Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini mungkin bisa dijadikan gambaran kasar tentang remaja-remaja kita sekarang. Saya comot dari thread-nya Deviass di kaskus.us, sebuah komunitas dunia maya. Lontaran tema tentang Gaya Anak Muda Kita Sekarang ini mendapat respons yang luar biasa. Telah di-view oleh para maniak internet tak kurang dari 17.000 kali dan mendapat tanggapan begitu meriah di forum Life Style.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;More&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah coba saya susun sedemikian rupa, inilah kira-kira bentuk remaja kita sekarang. Bokap-nyokap kalau merasa asing dengan istilah-istilah berikut, tanya sama anaknya saja, yah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja cowok: rambut mohawck, emo, Harajuku, Britpop. Mereka juga suka ke salon untuk smoothing rambut. Rambut cewek: di-rebounding, hitam, dan lurus banget. Setelan indies, rock and roll, atau kejepang-jepangan. Pakaian terutama cewek, warna suka yang nabrak-nabrak. Baju kuning, cardigan ungu, celana ijo, sepatu pink, tas pink, dst. Oh, kalau cowok pakai Polo shirt, kerahnya suka dinaikin. Pakai jam tangannya Levi’s yang model kotak-kotak (hehe... tapi kebanyakan kw1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dragon Ball, Doraemon, Kungfu Boy, Chin Mi, Legenda Naga? Udah lewaattt... Sekarang: Bleach, Death Note, Naruto, 20th Century Boy, Avatar. Yang cewek punya kegemaran nonton drama Korea. Kalau pegang remote TV? Yang diklik saluran musik melulu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan? McD, KFC, JCo, Hoka, Bread Talk, dll. Remaja-remaja suka makan rombongan. Tapi, saat bayar, antri! Alias bayar sendiri-sendiri. Kasirnya sampai BT, kenapa nggak sekalian satu saja yang bayar? Kalau ke Starbucks, beli kopinya satu gelas, yang nongkrong separo kelas. Di bus, di angkot, lagi jalan, di sekolah, atau di kampus, mp3 atau iPod tak pernah ketinggalan, kupingnya selalu disumpal earphone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang zamannya laptop! Ke mana-mana cari wi-fi gratisan. Kesepian, nggak ada tempat tongkrongan, malu, dong... So, cari tempat, nyalain laptop, terus buka internet. Padahal, yang dibuka website yang nggak penting dan buka gambar-gambar nggak jelas. Kalau friendster, myspace, facebook, yang penting temannya buanyak! Mau kenal kek, kagak kek, add saja terus...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demen banget ke mall. Cowok-cowoknya biasa nangkring di pinggir-pinggir eskalator sambil lihat ke bawah, yang cewek sibuk nyari pernak-pernik. Remaja cewek kalau jalan ke mall suka bawa tas yang dicangklong di lengan, mirip tas ibu-ibu yang mau ke resepsi pernikahan, mungkin biar terlihat sudah dewasa. Sudah pada mulai kenal clubbing, rajin cari invitation biar bisa clubbing gratis. Banyak yang ngerokok, tapi nggak ditarik. Cuma isep-buang, biar keliatan keren. Ssst... sering saling ketipu oleh penampilan. Lihat dari blakang sepertinya body malam Minggu. Begitu dilihat dari depan, busyet... malam Jumat Kliwon!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bikin MSN/YM biar gaul, myspace, LC (Live Connector), facebook, dan situs pertemanan lainnya. Kalau dulu, cowok baru kenalan sama cewek nanyanya nomor HP doang, sekarang ditambah lagi, friendster lu apa? Bacanya teenlit, Cosmo Girl, dll. Kalau lagi ngomong, kadang pakai lirik lagu, tapi suka nggak nyambung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek-cewek kalau lagi ngobrol di angkot, dalam jumlah banyak, biasanya ngomong sedikit langsung ketawa bareng sampai mulutnya luebar banget! Kayak mau robek, gitu. Dikira angkot moyangnya kaleee, sampai ketawanya ngalahin klakson truk gandeng, huahhh... huuuahhh…huuuuahhhaaa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bawa mobil, musiknya pasti yang "ajeb-ajeb" plus sound system yang super kenceng. Kacanya bening, knalpotnya sudah diganti. Gaya nggak mau kalah sama sopir angkot, seliweran terus sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau lagi ngetik, suka buat kalimat yang aneh-aneh. Misal: sayaH seDang galauw menikmati sepi seNdirih... Ah, benar2X gelisah... HuHUhU... Mengganti kata "dong" dengan "doms". Mengubah nama orang dengan cara ditambahi "ski". Contoh: Roy jadi Roski, Taufik jadi Taufski, Fery jadi Ferski. (Halahahalah, lagi musim salju, apa?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar-sebentar bilang: gue gitlohh..., gila lu..., cape dyeee..., keciaannn de luuuu..., bo, dan seterusnya. Misal: aduh bo, tau nggak sih tadi dia ngeliatin gue? Cewek-cewek sering banget bilang: ya iyalah..., dan, jangan gila dong..., sambil lidahnya melet-melet (mirip orang lagi kecekik lehernya!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggilai pop art dan desain. Banyak yang punya baju/kaus gambar Marylin Monroe dan cover album Velvet Underground yang bergambar pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek-cewek banyak yang punya dua handphone. Satu buat SMS, musik, foto-foto, satunya buat menelepon murah. Kalau lagi foto-foto, posenya, cewek: miring kira-kira 45 derajat dengan tampang sok cute lalu diedit pakai Photoshop (mereka menyebutnya sotosop). Tujuannya, biar kalau muka ada kandungan jelek-jeleknya nggak kelihatan. Pose yang cowok: ngangkat dagu, lihat ke arah yang terang cahayanya. Kalau enggak, nunduk ke bawah, tapi mata lihat ke depan sambil pamer rambut. Juga, suka foto sambil lidahnya melet, pipi digembungin, lalu matanya melotot. Yang lihat bingung: ini jelek dibuat-buat atau jelek orisinal? Upaya penipuan visual diam-diam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau lagi sendirian di tempat ramai, kerjaannya ngutak-ngatik HP, biar keliatan seperti lagi sibuk SMS-an, padahal sedang kesepian... Rata-rata paham banget dengan berbagai fitur jenis HP. Kalau SMS romantis nggak mau pakai bahasa Indonesia, pakainya Inggris. Juga paling demen menyingkat-nyingkat kata, dicampur sama angka, dan menulisnya gede-kecil. Misalnya: Hi, hR Ni Lo3 M0 jLn2x B4rEn9 9W g4..? Kq MbaL4s sMs-nyh LamA b9t C..? (Hai, hari ini lu mau jalan-jalan bareng gue nggak? Kok mbalas SMS-nya lama banget sih..?). Hadahadahhh... boro-boro balas SMS model begini, baca saja kepala rasanya pusing banget...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe… orang tua memang cenderung gampang pusing kepala. Pusing mikir tahu-tempe, lah... Berantem soal pilkada, lah... Pusing mikir Pak Harto, lah... dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak muda selalu bisa menemukan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-1042141370435610798?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/1042141370435610798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/yang-muda-yang-bahagia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/1042141370435610798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/1042141370435610798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/yang-muda-yang-bahagia.html' title='Yang Muda Yang Bahagia'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-3609453672142839796</id><published>2011-06-23T11:47:00.000-07:00</published><updated>2011-06-23T23:54:07.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Pesta Imlek</title><content type='html'>Oleh: Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya penggemar berat Jackie Chan dan Kho Ping Hoo. Di layar lebar, Jackie Chan adalah pendekar cerdik yang kedua kaki dan tangannya bisa bergerak menyerupai kipas angin dan kelenturan tubuhnya seolah tanpa tulang belakang. Elastis seperti permen karet, lincah, lucu, serta tak pernah kehabisan gerak karena kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;More&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Kho Ping Hoo, dia adalah penulis cerita silat yang mampu melambungkan imajinasi saya, bahkan hingga jauh ke tepian Sungai Huang Ho. Meski jasad Asmaraman S. Kho Ping Hoo telah lama dikuburkan di Solo, Jawa Tengah, semua tokoh yang dia fantasikan dalam cerita silatnya sungguh tak pernah mati dalam ingatan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terus terang saja, dari kedua orang itulah sebenarnya saya mulai mengenali etnis China. Jadi, keakraban dalam hati yang saya miliki sesungguhnya berawal dari Kho Ping Hoo dan Jackie Chan. Saya benar-benar sangat terlambat, misalnya, sekadar memahami bahwa menyebut China ternyata juga berpotensi menciptakan ketidakenakan di tingkat perasaan, karena kenyataan sejarah politik kita yang buruk pada masa lalu. Saya juga kurang paham bahwa Tiongkok adalah panggilan yang lebih halus ketimbang China, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang selalu disuguhkan Jackie Chan dalam film-film kungfunya maupun Kho Ping Hoo lewat tokoh-tokoh dalam cerita silatnya seperti Lu Kwan Cu, Kam Bu Song, Suma Han, Kao Kok Cu, maupun Wan Tek Hoat dan lain-lainnya, pelajaran yang selalu bisa kita petik adalah: baik buruk kelakuan seseorang tak pernah ditentukan warna kulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jackie Chan dan Kho Ping Hoo memberikan kegembiraan yang luar biasa kepada saya lewat film-film dan cerita silatnya. Lihatlah Jackie Chan dalam The Drunken Master yang kesohor itu. Ketika dia sedang mabuk berat pun -sambil teler dan sempoyongan-, bintang kungfu bermata sipit itu tetap bisa menendang dengan jitu, meski ngawur, dan memukul dengan sangat akurat dengan jurus mabok beratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keduanya, saya juga mendapat pelajaran bahwa niat baik ternyata selalu berpapasan dengan niat buruk. Dan untuk bisa menang melawan yang buruk, selalu dibutuhkan kegigihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, Imlek bisa kita rayakan dengan tanpa rasa canggung lagi. Tak seperti ketika masih dalam tekanan, mal-mal, restoran, food court, dan perkantotan kini penuh oleh lampion dan nuansa merah. Saya makan bersama anak-istri di antara keluarga-keluarga yang mengenakan baju ji bao merah meriah. Terasa benar betapa kebebasan merayakan seperti ini sungguh sesuatu yang lama dirindukan. Lepas dari kekangan secara politis dan merdeka dari perlakuan buruk sejarah masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, Imlek kali ini juga membuat tawa gembira, meski tanpa sengaja. Saya diajak menemani Pak Dahlan, bos saya, untuk datang di pesta perayaan Imlek yang diselenggarakan Konjen Tiongkok Surabaya. Soal apa yang bakal terjadi pada tahun tikus nanti, kita telah mendapatkan banyak ramalan dari paranormal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Mama Lauren, Indonesia masih akan diguncang berbagai bencana. Beberapa gunung berapi bakal meletus, terutama yang berada di garis cincin api (ring of fire). Banjir, tanah longsor, serta badai masih akan terus meneror. Beberapa pulau digenangi air laut dan nyaris tenggelam. Para petani bahkan banyak yang akan mengalami gagal panen karena serangan hama tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka itu, tak usah bicarakan lagi kelakuan tahun tikus tanah di sini. Saya akan cerita tentang kegembiraan pesta dan kemelut yang menimpa saya saja. Pak Dahlan, ketua umum Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia, memang biasa ngajak orang di redaksi untuk menemani dirinya datang ke sebuah acara. Yang diajak juga asal saja, siapa yang ada dan siapa yang mau. Karena kali ini yang hendak didatangi adalah sebuah pesta, saya pikir-pikir. Sebab, saya cuma pakai kaus oblong dan sepatu kets belel. Pikir saya, ngapain saya ke pesta kalau gagal untuk gembira?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba cari baju, deh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke Bos..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu mengaduk-aduk semua laci meja saya untuk mencari baju. Eh, ketemunya sarung! Sialan. Pengamatan kemudian tertuju pada baju yang dikenakan teman-teman. Ada beberapa yang saya rasa ukurannya pas dengan badan saya yang tipis, tapi tak cocok dengan warnanya. Ada beberapa lagi yang menurut saya cukup sopan untuk pesta, tapi pasti kegedean bila saya kenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang ajar, saya telah menerapkan berbagai persyaratan. Ini pasti akibat terlalu sering nonton Supermama Seleb Show dan termakan ulasan Madame Ivan Gunawan. Jangan gila doooong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan baju akhirnya teratasi setelah teman dari DetEksi (halaman anak muda Jawa Pos) menyodorkan jas hitam yang terbungkus rapi. Kini tinggal persoalan sepatu yang saya anggap tak terlalu mengganggu. Karena nasib baik, di depan lift, seorang teman meminjamkan sepatunya yang dianggap cocok dengan jas yang saya pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekacauan pertama berlalu, ketegangan berikutnya menyambut. Saya harus mengendarai Mercedes-Benz seri S 500 dari kantor ke Shangri-La. Saya dan teman-teman di redaksi sebenernya punya kebiasaan nyobain mobil barunya Bos. Tapi, kali ini saya seperti kena batunya. Mobil itu harganya lebih dari Rp 3 miliar. Begitu kontak saya genggam, pikiran langsung merujuk pada harganya! Bayangkan kalau di jalan ditabrak angkot. Rumah saya, mobil saya, sawah saya di kampung, sapi, kambing, ayam, beserta kandangnya, semua dijual, tetap nggak cukup untuk mengganti. Hahaa… katrok bo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin mobil belum saya nyalakan pun pikiran telah melayang ke sepanjang jalan yang hendak saya lewati. Becak-becak dan angkutan yang biasa berseliweran di sepanjang Wonokromo dan Joyoboyo sungguh seperti merampas mood pesta saya. Dengan perasaan kacau, AC dingin tapi badan terasa gerah, audio bersuara jernih tapi kuping kayak budek, mau nyalain lampu sein, eh malah keluar air mancur, tapi nyampe juga di Shangri-La.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di rubrik ini saya pernah menulis tentang pengalaman membahagiakan ketika mengendarai mobil pertama, Jimny Kotrik, inilah kesamaannya: basah kuyup keringatan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang agak terlambat. Ballroom telah dipenuhi hadirin, lilin-lilin menyala di setiap meja. Ternyata, saya memakai jas, sementara undangan lain berbaju batik sesuai dress code-nya. Di ruang yang luas itu, saya seperti gabah yang terselip di antara hamparan beras. Kepala terasa cenut-cenut dan mata berkunang-kunang. Tapi, saya musti patuh dengan hukum pesta: toast, makan-makan, bergembira, dan tetap optimistis menyambut tahun tikus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-3609453672142839796?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/3609453672142839796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/pesta-imlek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/3609453672142839796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/3609453672142839796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/pesta-imlek.html' title='Pesta Imlek'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-3765936650366245921</id><published>2011-06-23T11:46:00.001-07:00</published><updated>2011-06-23T23:55:57.636-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Mencari Cara untuk Turun</title><content type='html'>Kolom Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kita menyodorkan sketsa rumit bahwa proses untuk naik menjadi presiden dan turun dari takhta Istana Merdeka ternyata bisa menjadi dua hal yang sama-sama serunya. Para pemimpin di negeri ini sungguh selalu melewati cara yang sulit, malah kadang menyakitkan, ketika harus turun dari kursi yang didudukinya manakala datang akhir masa jabatannya. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;MoreSumber rasa sakit itu sebenarnya datang dari satu sebab saja, yaitu cara turun yang tidak lazim. Cara yang wajar bukannya kita semua tidak tahu, tapi entah karena apa, para pemimpin itu selalu saja tergiur dengan cara-cara keliru yang dirancangnya sendiri. Kekeliruan mereka tentu bisa bertingkat-tingkat kelasnya. Dari yang sekadar tak puas jika hanya menjabat sekali, lalu ingin menjabat untuk yang kedua, sok merasa rakyat masih menghendaki lalu dengan segala cara ingin memperpanjang masa jabatannya, hingga tingkat yang paling rimba: kemauan untuk berkuasa selamanya. Akhirnya, proses turun yang mestinya menjadi laku alamiah dan biasa-biasa saja justru mengakibatkan&lt;br /&gt;babak belur, luka-luka, dan rasa sakit belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah dari cara turun yang kacau itu ialah segagah dan sebesar apa pun pemimpin kita, tak peduli berapa banyak bintang jasa yang dikumpulkannya, betapa memukau karisma kebapakannya, mereka ternyata selalu seperti para pendaki gunung yang gagah menaklukkan puncak, namun kebingungan ketika harus mencari jalan untuk kembali turun ketika waktunya tiba. Karena itu, yang akhirnya terjadi adalah bingung dan nervous yang amat sangat, juga suasana yang mendebarkan di mana-mana. Kronologi selanjutnya, suhu politik naik, ekonomi kacau, demo di mana-mana, pejabat tunggang langgang, adegan saling dorong, jatuh, dan akhirnya rasa sakit yang tak terhindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang turun menapaki anak tangga satu demi satu dengan wajah tersenyum sambil dipegangi sebelah tangannya Ðseperti anjuran filsafat mikul dhuwurÐ adalah impian semua pemimpin kita. Pak Harto bahkan berkali-kali menyampaikan, bahwa mengisi masa pensiun sambil madheg pandita ratu adalah impian mewah terakhirnya. Tapi, tetangga dekat kita, Singapura- lah yang dengan baik mempraktikkannya. Lee Kwan Yew yang dua tahun lebih muda dibanding Pak Harto lengser keprabon pada 1990 setelah menjabat sejak 1965. Setelah kursi perdana menteri ditempati Goh Chok Tong, Lee didudukkan di kursi goyang sebagai menteri Kanan di jajaran kementerian Goh. Sekarang, setelah Goh Chok Tong pensiun dan jabatan perdana menteri ditempati Lee Hsien Loong, Goh pun didudukkan sebagai menteri kanan. Dan Lee, madheg pandhita ratu menjadi menteri Mentor. Dalam usianya yang telah sepuh namun pemikirannya tetap prima, ditunjuk sebagai menteri Kanan maupun menteri Mentor Singapura adalah sebuah ritual "memanusiakan" yang tidak hanya bermakna mikul dhuwur (menjunjung tinggi) tapi juga menghibur senior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan Singapura, Indonesia punya jam terbang lebih tinggi soal gonta-ganti pemimpin. Telah enam kali kita punya pengalaman ganti presiden sejak republik ini berdiri. Tapi, mulai presiden pertama Soekarno, kemudian Soeharto, Habibie, Gus Dur, hingga Megawati, semua lengser dengan cara yang tidak happy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inilah saatnya menutup satu babak dalam sejarah Singapura dan memulai babak baru," kata Goh Chok Tong dalam pidato serah terima jabatan kepada Lee Hsien Loong, perdana menteri yang sekarang. Ada kesan rapi ketika era lama berakhir dan era baru mengganti. Bedanya dengan kita, cobalah simak bagaimana Soekarno jatuh lalu digantikan Soeharto, dan Soeharto pun akhirnya diturunkan paksa. Habibie jatuh, lalu digantikan Gus Dur yang tak lama kemudian juga digusur. Sebagai presiden dengan bakat humor yang nyaris tiada tanding, proses turunnya Gus Dur dari kursi istana ternyata tak sedikit pun mampu memancing tawa kita seperti humor-humor Gus Dur biasanya. Kita semua ingat, pada saat-saat terakhir kejatuhan Gus Dur, televisi menyiarkan tayangan langsung dari istana yang sedang panas dan Gus Dur Ðyang selama rezim Ode Baru selalu mampu menghibur kita semuaÐ dituntun ke sana-kemari hanya dengan celana kolor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak tahu secara detail bagaimana Soekarno turun dari kursi kepresidenan kala itu karena belum datang era televisi yang bisa menyiarkan secara langsung detik-detik presiden dijatuhkan. Tapi, dari berbagai referensi dan cerita mulut berbagai versi, presiden pertama kita, agaknya, memang jatuh tersungkur secara menyedihkan. Soekarno tak sekadar terpeleset dari anak tangga kekuasaannya yang tinggi, tapi ada semacam proses mendorong yang begitu kasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY baru akan mengakhiri masa jabatannya pada 2009. Namun, proses saling dorong antara kubu Mega dan SBY, tampaknya, telah dimulai sejak sekarang, sekadar untuk menegaskan bahwa "duel" memang belum berakhir. "Pemerintahan saat ini, saya lihat seperti penari poco-poco. Maju satu langkah, mundur satu langkah. Maju dua langkah, mundur dua langkah. Kadang malah hanya jalan di tempat," kata Megawati dalam pidato politik Ulang Tahun Ke-35 PDIP di GOR Sriwijaya Palembang (31/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindiran itu langsung dibalas kubu SBY. "Kalau kebijakan SBY tentang pemberantasan kemiskinan ibarat penari poco-poco, Megawati ibarat penari undur-undur. Tidak pernah maju, tetapi mundur terus," kata ketua Fraksi Partai Demokrat DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Pak Harto dimakamkan di Astana Giribangun, pikiran saya surut jauh ke belakang, teringat saat jenazah Presiden AS ke-40 Ronald Reagan disemayamkan di Capitol Hill. Bush senior, George W. Bush dan Laura serta Clinton dan Hillary tertunduk bersama di depan peti mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ribuan pelayat di Astana Giribangun yang hendak memberi penghormatan terakhir untuk Pak Harto saat hendak dikubur pekan kemarin itu, kita tak melihat satu pun mantan presiden hadir di sana. Habibie sedang menjadi pembicara seminar di Amerika, Gus Dur sedang gerah serius, Mega sedang periksa kesehatan di Singapura. Benar atau tidak alasan mereka, agaknya para mantan presiden kita memang sedang sibuk dengan sakitnya. Luka-luka karena proses kejatuhannya dulu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-3765936650366245921?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/3765936650366245921/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/mencari-cara-untuk-turun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/3765936650366245921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/3765936650366245921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/mencari-cara-untuk-turun.html' title='Mencari Cara untuk Turun'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-6158780873670235816</id><published>2011-06-23T11:45:00.001-07:00</published><updated>2011-06-23T23:56:12.850-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Mari Bicara Cinta</title><content type='html'>Oleh: Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahku hanya kecil saja, tapi begitu hebat dalam merangsang fantasiku. Tak terhitung berapa banyak khayalan tentang keindahan kubayangkan hadir di dalamnya. Dari berbagai imajinasi itu, yang paling sering menggoda adalah sebuah taman bunga. Meski sadar bahwa keinginan tersebut muskil adanya karena sisa tanah memang tak ada, tapi apa boleh buat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;More&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah mewah dengan pekarangan nan luas menghampar, toh tetap tetangga yang punya. Maka, dari tempat berteduhku yang mungil itu, berbagai keinginan menyangkut harmoni, keasrian, kenyamanan, dan hasrat artistik akhirnya seperti kutumpuk begitu rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar betul, betapa terbatasnya lahan yang kumiliki. Tapi, jauh sebelum fondasi rumah mulai dibangun, aku sebenarnya telah lebih dulu sibuk membayangkan di mana kira-kira bermacam bunga kesayanganku akan kutanam ketika rumah kutempati nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan sangat terpaksa, kusisakan sebagian tanah di bagian belakang rumah untuk tetap kubiarkan terbuka. Biar sinar masuk, ada rintik gerimis, angin segar, dan aku bisa menanam bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintai bunga dalam arti yang sesungguh-sungguhnya. Bukan bunga nama samaran, atau mencintainya dengan sejenis cinta musiman. Gampang pudar dan gampang kulupakan. Meski berkali-kali kecewa karena acap bertemu kepalsuan dan dikhianati para pejual bunga, aku tak kehilangan asa. Bunga-bunga tetap kurawat dan terus kusirami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang berlibur ke daerah pegunungan yang sejuk, pasti kusediakan sesi khusus untuk mencari bunga. Dan aku pasti terpesona pada anggrek-anggrek yang tangkainya dikerubuti kelopak segar yang sedang mekar. Sangat kontras dengan penjualnya, ibu-ibu tua yang raut wajahnya dipenuhi keriput. Si ibu memancing rasa kasihan, sementara anggrek itu tampak begitu cantik dan memikatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apa yang terjadi setelah anggrek kubeli dan kubawa pulang ke rumah? Sehari berada di taman rumahku, anggrek menjadi layu. Daun-daunnya melorot tak bertenaga, batangnya lunglai seperti kehilangan gairah hidup. Karena perbedaan suhu? Mungkin. Tapi, mestinya anggrek tidaklah secengeng itu. Lalu, kenapa ia layu seperti pasien gawat darurat yang dicabut selang infusnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penasaran, anggrek itu kucabik-cabik hingga ke pangkalnya. Astaga! Tahulah aku sekarang mengapa anggrek tersebut tak sanggup hidup di taman rumahku. Ia ternyata cuma bunga palsu. Umur kecantikannya hanya beberapa saat saja. Ia hanya setangkai anggrek yang dipotong, lalu di pangkalnya ditaruh segumpal tanah, kemudian dibungkus dengan pelepah pisang, terus diikat tali. Sejatinya, ia tak punya akar untuk menghidupi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ibu tua yang mengharukanku. Engkau telah tega mengkhianatiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pasar bunga dadakan, aku menemukan aglaonema yang daunnya kecil-kecil, lain dari biasanya. Terlihat lucu dan agak aneh. Namun, setelah beberapa lama bunga itu kupelihara di rumah, daun baru pun tumbuh. Yang mengherankan, daun barunya tidak lagi kecil-kecil, tapi gede seperti daun aglaonema umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut-punya usut, aku ternyata terperangkap siasat buruk penjual bunga. Daun aglaonema itu diperkecil dulu dengan cara diguntingi satu per satu sebelum dijual. Ampun, deh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertipu akar palsu, daun palsu, bunga palsu pun pernah. Barangkali memang begitulah risiko jatuh cinta. Tak selamanya ketulusan bakal berbalas kejujuran. Suatu kali, juga di daerah wisata, aku bertemu bunga lily yang dalam satu tangkainya mekar dua warna bunga. "Lily dwiwarna," kata penjualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga lily kubeli tanpa kutawar, karena menurutku memang sudah murah harganya. Karena begitu indahnya, ketika dalam perjalanan pulang menuju rumah, bunga itu tak henti-hentinya aku pandangi. Betapa kagetnya setelah bunga yang sedang mekar itu coba kutarik dari tangkainya. Ia ternyata cuma bunga tempelan yang ditancapkan dengan tusuk gigi ke batang lily...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan lalu, aku kecewa berat dengan bunga Desember. Bunga yang daunnya menyerupai miniatur daun pisang tersebut kubeli kira-kira sepuluh bulan lalu dengan harga Rp 20 ribu dari penjual bunga langgananku. Menurut penjualnya, kalau sedang berbunga, bunga Desember akan memunculkan mekar seperti kembang api. Tapi, itu hanya setahun sekali, yaitu pada bulan Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan demi bulan berlalu dengan penantian, hingga tibalah bulan Desember yang kutunggu-tungu. Tapi, sampai habis bulan Desember, bunga itu tak kunjung mengeluarkan bunga. Karena kesal, penjual bunga kulabrak. Tapi, apa kata penjual bunga tersebut, "sabar Pak, cobalah tunggu bulan Desember mendatang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ohoi, betapa berat ujian kesabaran akan cintaku padamu hai bunga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, cuma kecil saja taman bungaku. Tapi, aku begitu betah berlama-lama bila sedang di tengahnya. Saat sepi, kupandangi sisi-sisi dinding tembok yang kutempeli aneka jenis bunga gantung. Ada sirih-sirihan, bunga happy, simbar menjangan, bunga tetes air mata, kerokot hijau, anggrek bulan, dan lain-lain. Kini, seluruh dinding tembok pojok belakang rumahku penuh oleh juntai aneka bunga. Aku menjadi tidak begitu hirau bahwa rumahku sebenarnya hanya mungil dan tamanku sempit adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangankan yang serbamewah, megah, luas, besar, tentu tidak dilarang. Tapi, hati-hatilah, salah-salah bisa seperti para pejabat Bank Indonesia yang kini menjadi para tersangka itu. Kaya raya, rumah gede, duit banyak, tapi harus tinggal dalam ruang tahanan berjeruji yang sempit dan pengap. Tanpa taman bunga lagi! Betapa penting mencintai hal-hal kecil yang telah kita miliki. (leak@jawapos.co.id)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-6158780873670235816?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/6158780873670235816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/mari-bicara-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/6158780873670235816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/6158780873670235816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/mari-bicara-cinta.html' title='Mari Bicara Cinta'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-7542776441968701995</id><published>2011-06-23T11:44:00.000-07:00</published><updated>2011-06-23T23:56:24.856-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Kita Sedang Menunggu</title><content type='html'>Oleh Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sejenis pertunjukan yang harus kita yakini kurang baik mutunya, dari waktu ke waktu terus diulang, namun kita semua gagal memperbaikinya. Sebenarnya, ia cuma semacam adegan pendek, tapi sungguh aduhai memikatnya. Sebab, dari di situlah watak dan karakter asli kita jadi jelas terlihat: tak mau tahu artinya urutan, takut keduluan, suka main serobot, dan tidak toleran. Meski setelah menyerobot, tak jelas juga apa yang harus dilakukan. Semangat untuk sekadar menyerobot itu ternyata telah begitu menggiurkan. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;MoreSebagai kelakuan bersama, sungguh itu adalah sebuah adegan buruk rupa. Celakanya, kita terus mempertontonkannya tanpa kesan demam panggung dan rasa ragu sedikit pun. Pendek kata, kita telah terbiasa. "Kelakuan!" kata kita. Istilah kebudayaannya, ya, ini budaya kita! Kebudayaan tak mau menunggu dengan cara yang semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, di negeri yang konon secara kultural mewarisi sopan santun dan tepa salira tinggi, tapi sehari-hari yang kita dapati adalah antrean dalam bentuk bergerombol, bukan berjejer. Panggung adegan itu bisa ada di berbagai tempat. Depan loket penjualan tiket pertunjukan, pintu masuk ruang keberangkatan bandara, depan kasir swalayan, perempatan lampu merah, palang perlintasan kereta, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai seberapa parah kelakuan kita saat harus menunggu? Cobalah simak ilustrasi berikut sebagai deskripsinya. Seminggu lalu, sebuah kecelakaan terjadi tak jauh dari tempat tinggal saya. Sepasang suami istri yang baru seminggu menikah berboncengan sepeda motor hendak berangkat kerja. Di tengah jalan, mereka harus berhenti sesaat karena berpapasan dengan kereta api express yang relnya melintangi jalan raya. Karena melihat celah palang kereta cukup untuk dilewati, pengendara itu main terobos saja. Entah karena dorongan untuk tiba di tempat kerja tepat pada waktunya atau alasan lain, yang terjadi berikutnya adalah sebuah adegan maut. Sepeda motor tersenggol lokomotif kereta api, istri yang duduk di boncengan terpelanting. Kepala wanita yang mestinya sedang menikmati masa indah bulan madu itu pecah. Sementara sang suami, kakinya patah. Begitu singkat adegan itu, tapi dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Pak Harto masuk RSPP, kita telah dua minggu dibuat seperti sedang menunggu. Kebiasaan kita saat harus menunggu, yang menonjol adalah semangat berebut untuk saling mendahului. "Besok selepas subuh Pak Harto pasti mati," kata kita di warung kopi seolah lebih tahu daripada Yang Maha Pemilik Hidup. "Hari Kamis," kata yang lain. Koran dan televisi juga saling tidak mau ketinggalan. Dalam hal pemberitaan, mereka berlomba untuk saling tampil one step ahead. Selangkah ke depan dari sakitnya Pak Harto diartikan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah harian yang terbit di ibu kota dengan enteng menulis judul besar-besar: Pak Harto telah meninggal, ayamnya berkokok semalaman. Beberapa stasiun televisi pun buru-buru menyewa rumah para penduduk di sekitar Astana Giribangun dan memboyong perangkat siarannya ke Karanganyar seolah-olah Pak Harto betul-betul mati minggu kemarin. "Liputan dari tepi liang lahat adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu," pikirnya. O’oo kamu ketahuan... tertipu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu terakhir, media massa memang telah mengerem nafsunya dari sikap yang cenderung terlalu itu. Surut dari ekspos seputar kuburan, lalu berangsur kembali pada porsi pemberitaan yang biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang, saya pun mendengar orang bicara bahwa belum juga saya mati, saya sudah membuat kuburan. Padahal, yang sebenarnya, kami buat kuburan itu untuk yang sudah meninggal, di antaranya ayah kami. Selain itu, pikiran saya menyebutkan, apa salahnya, toh akhirnya kita akan meninggal juga. Kalau mulai sekarang kita sudah memikirkannya, itu berarti kita tidak akan menyulitkan orang lain," kata Pak Harto kepada G. Dwipayana, 20 tahun lalu. Tapi, kenapa kita sekarang jadi merasa repot dan sulit sendiri? Kru televisi mengemas kembali peralatan live-nya. Bahkan, bupati Karanganyar telah memperbaiki aspal jalan Solo-Matesih dengan cara kilat. Tebing rawan longsor dikepras dan ruas-ruas jalan berlubang disulap hingga mulus seketika. Dalam benak, pada hari-hari kemarin itu, jalan-jalan menuju makam bakal begitu sesak karena dilewati jenazah Pak Harto dan ribuan pelayat yang berjalan iring-iringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak lagi kentara, hingga hari ini pun sebenarnya semua media, baik cetak maupun elektronik, masih dalam kondisi siaga satu. Mereka berjaga menyiapkan stop press, siaran live, dan armada peliput lengkap dengan perangkatnya. Malam Minggu lalu, saya tak bisa pergi nonton midnight. Malam Minggu kemarin, ajakan nonton kembali saya tolak lewat SMS: sorry, not tonight, honey. Lagi piket, menunggu kesembuhan Pak Harto...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, sesungguhnya sekarang pun kita semua sedang berada di ruang tunggu yang sama. Yang tak pernah tahu, apakah Pak Harto ataukah kita dulu yang bakal mendapat panggilan dari-Nya. Tak perlu saling mendahului, semua pasti dapat giliran. Mari kita menunggu segala sesuatu dengan cara yang semestinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-7542776441968701995?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/7542776441968701995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/kita-sedang-menunggu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/7542776441968701995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/7542776441968701995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/kita-sedang-menunggu.html' title='Kita Sedang Menunggu'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-7740665188661944323</id><published>2011-06-23T11:36:00.001-07:00</published><updated>2011-06-23T23:56:41.051-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Bapak Kita daripada Soeharto</title><content type='html'>Oleh: Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Pak Harto harus diadili? Atau, sebaiknya kita ampuni saja? Tak usah kita perdebatkan sekarang. Tak penting, terlebih bagi Pak Harto sendiri. Bukankah ketika Pak Harto sedang sehat, bicaranya masih daripada lancar terkendali, masih bisa main golf, dan masih kuat berjalan sendiri ke kantor pengadilan, justru pengadilan kita yang memble seperti didera stroke parah? &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;MoreKalau sekarang, ketika Pak Harto sedang koma, para pakar dan praktisi hukum ramai-ramai berargumen tentang perlu tidaknya beliau diadili, tentu Pak Harto tak perlu menggubrisnya. Yang beliau butuhkan sekarang adalah kejelasan tentang kelanjutan status komanya. Apakah masa kritisnya akan segera berakhir dan segera kembali sehat seperti sedia kala? Yang jelas, jangan berisik... karena beliau sungguh lagi gerah sangat serius sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kemungkinan-kemungkinannya. Kalau Pak Harto berpulang, beliau cuma akan meninggalkan Cendana yang asri lalu pindah ke Astana Giri Bangun, kompleks makam khusus keluarga raja-raja Mangkunegaran, di Karanganyar, Solo. Di bawah cungkup Argo Sari yang atapnya menjulang tinggi, yang keempat tiangnya dilingkari cincin-cincin besar yang pernah diisukan terbuat dari emas, Eyang Kakung bakal dibaringkan di sisi istri tercintanya, Siti Hartinah. Sebuah tempat peristirahatan terakhir dengan hill view dan angin sepoi di tengah hari. Pintu gerbangnya tak kalah kukuh dibandingkan pintu masuk Istana Merdeka, juga lengkap dengan penjaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, andai beliau jadi pergi untuk selamanya, wajah hukum dan peradilan kitalah yang bakal semangkin kelihatan memelas dan menunjukken tampang minder berkepanjangan. Sejarah akan mencatat: pengadilan negeri ini tak pernah berbicara sepatah kata pun di depan Pak Harto yang nilai korupsinya tak tertandingi. Suka mengekang dan membredel pers, hobi mengintimidasi, serta memenjarakan aktivis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Pak Harto kembali sehat walafiat, percayalah. Para pakar dan praktisi hukum itu pasti akan reda omongnya, lalu berangsur-angsur diam dengan sendirinya. Mereka akan kembali seolah-olah bingung, sibuk menimbang dosa dan jasa Pak Harto, untuk sekadar menutupi bakat minder kita yang memang tak ketulungan itu. "Kita harus bisa menjadi bangsa yang bisa mikul dhuwur mendem jero," kata seorang mantan pejabat seusai besuk di RSPP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau Pak Harto tetap seperti sekarang, kritis untuk jangka waktu lama, yang bakal semakin ramai memang perdebatannya tadi. Namun, lepas dari sisi baik-buruk, Pak Harto adalah seorang bapak yang memang kelewat besar. Begitu besarnya beliau hingga terlalu berat untuk dipikul dhuwur dan terlalu rendah untuk kita dudukkan sebagai terdakwa di kursi pesakitan. Karena kebesarannya pula, kita sebagai rakyat pun menjadi sangat gampang patuh dan tunduk hanya demi atas nama anak. Sebagai anak, pilihan kita hanya patuh atau taat. Nakal dan berani menolak perintah bakal terlalu besar risikonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun lebih, selama masa kekuasaannya yang begitu represif, setiap saat kita persembahkan berbagai jenis kepatuhan di hadapannya. Kalau ada di antara kita yang berperilaku bandel, si bapak pun cukup berpura-pura batuk dan menyebut para bengal sebagai kaum mbalela. Aparat akan dengan sangat sigap menerjemahkan suasana hati sang bapak, lalu dengan cekatan bertindak: menangkap, memenjarakan, kalau perlu menghabisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Harto kini membujur nyaris tanpa gerak, dikerumuni para dokter yang tampak kurang tidur dan kusut mukanya. Mata terpejam dengan selang oksigen menancap di hidungnya, tekanan darahnya gampang drop. Menurut tim dokter saat jumpa pers, napasnya pendek-pendek dan tak beraturan sehingga harus dibantu alat pacu jantung. Melihat orang tua yang lagi sakit, tiba-tiba kita menjadi sekumpulan anak-anak yang terserang sindrom trenyuh dan pemaaf. Bapak boleh penuh kesalahan, tapi anak harus bisa memaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di mana hukum berada? Hukum tentu berbeda dengan perasaan. Ia harus bicara di atas fakta, bukan perasaan. Negara yang hukumnya berjalan baik pasti akan memberi rasa aman dan memenuhi rasa keadilan rakyatnya. Permintaan Mbak Tutut agar rakyat Indonesia memaafkan Pak Harto bukanlah hal sulit untuk dituruti. Yang sulit adalah ketika harus memilah antara persoalan hukum dan persoalan perasaan. Memberi maaf tentu tidak berarti memberi ampunan atas semua kesalahan di mata hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, sebagai rakyat kita memang telanjur merasa cukup untuk bersikap seperti anak saja. Sementara itu, Pak Harto sungguh kelewat lama menjadi pemimpin dan kelebihan porsi sebagai bapak kita. Bahkan, dia sangat sukses mencitrakan diri sebagai bapak bangsa, bapak pembangunan, dan seterusnya yang tanpa cela. Hingga sebagai anak kita tak lagi merasa bahwa dari waktu-ke waktu yang kita punya sesungguhnya adalah pemimpin-pemimpin yang gagal menahan diri, mengabaikan perasaan, serta rakus terhadap hak-hak rakyatnya. Sebagai anak, betapa telah lama kita ini menjadi seperti yatim piatu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-7740665188661944323?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/7740665188661944323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/bapak-kita-daripada-soeharto.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/7740665188661944323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/7740665188661944323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/bapak-kita-daripada-soeharto.html' title='Bapak Kita daripada Soeharto'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8438433438807781043.post-648770551817821192</id><published>2011-06-23T11:34:00.000-07:00</published><updated>2011-06-23T23:56:52.110-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leak Koestiya'/><title type='text'>Perasaan Tidak Bersalah</title><content type='html'>Oleh: Leak Koestiya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diterbangkan dari Manado ke Jakarta, Vonnie Anneke, bupati keren dari Minahasa Utara, kini harus duduk manis dengan segenap ketabahan sebagai seorang pesakitan. Menjalani persidangan pengadilan tindak pidana korupsi karena diduga merugikan negara Rp 4 miliar dalam kasus proyek pembangunan Bandara Kutai Kartanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;More&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenakan baju putih lengan panjang -kostum favorit para terdakwa-, mantan Nona Minahasa Utara itu menatap tajam jaksa yang mengancamnya dengan pidana 20 tahun penjara. Saat Vonnie menyandarkan tubuhnya di kursi pesakitan dan bibirnya berhadapan dengan mikrofon, saya teringat artis-artis cantik macam Wulan Guritno, Tamara, Sarah Azhari, maupun Pinkan Mambo saat menjalani sidang perceraian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya, setelah palu vonis diketok, artis-artis cantik itu langsung meninggalkan suami lama dan segera berhambur menyambut pacar baru dan suami barunya. Sementara Vonnie, dadanya harus berdetak kencang karena menghadapi vonis yang bakal mengantarnya pada hukuman panjang di dalam penjara dengan segala duka derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman kesetaraan, ternyata bukan hanya bapak-bapak pejabat yang berperut gendut dan berkulit kasar yang terbelit praktik korupsi. Tapi, bupati wanita berkulit putih, langsing, cantik layaknya pemain sinetron pun bisa kedapatan mendekam dalam tahanan dengan ancaman penjara hingga begitu lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak gerakan otonomi menggelinding, sudah tak terhitung berapa banyak pejabat serta kepala daerah yang terperosok masuk bui gara-gara terlibat kasus-kasus korupsi. Tapi, terhadap Vonnie Anneke, sungguh saya sangat terdorong untuk tahu lebih jauh, ketimbang para koruptor lain semisal Syaukani, Widjanarko, Roesmanhadi, atau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena saya adalah laki-laki. Dorongan ingin tahu lebih jauh itu umpamanya: bagaimana nanti ketika ibu Vonnie harus melewati malam-malam panjangnya yang dingin dalam penjara, sementara selimutnya hanya kain seadanya saja? Tanpa spring bed yang pegasnya lentur dan guling lembut berisi bulu angsa. Apakah dia akan menyalakan obat nyamuk bakar yang asapnya menyesakkan napas dalam selnya yang sempit untuk mengusir nyamuk-nyamuk nakal yang menggigit kuping, hidung, pipi, dan lengannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah memilih mengolesi sekujur kaki dan tangannya dengan obat nyamuk cair yang baunya harum, tapi panas di kulit? Apakah ibu bupati yang anggun itu tidak akan stres berat ketika sepanjang waktu yang dia hadapi cuma tembok dan kawat jeruji? Padahal, biasanya dia tinggal di rumah dinas yang luas yang ketika ingin meneguk teh manis, cukup teriak panggil pelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ibu bupati apes yang terdampar di ruang tahanan... Apakah ibu tidak kangen di-creambath, dilulur, dan di-spa dengan aneka herbal serta wangi-wangian seperti biasanya di waktu senggangmu? Padahal, sebagai seorang bupati, kau ibarat raja kecil di daerah yang sudah pasti sangat terbiasa dengan fasilitas hidup serta pelayanan kelas premium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya bicara dalam nama Tuhan. Saya minta kepada presiden Republik Indonesia. Saya minta kepada ketua KPK. Saya menuntut kenapa saya dijadikan seperti ini. Padahal, saya merasa tidak bersalah," teriak Vonnie sekeluar dari gedung KPK akhir tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vonnie atau siapa pun tentu layak resah dan gundah gulana. Jika ternyata pintu penjara tiba-tiba seperti muncul di depan mata. Setelah pendeta, teman-teman dekat, dan sanak saudara berkumpul untuk berdoa bersama, Vonnie memang merasa mendingan. Rasa gundah berkurang, tapi tidak sirna semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegundahan Vonnie adalah kegundahan generik ruang pengadilan. Apa salah saya? Mengapa mereka tega ngerjai saya? Hanya Tuhan yang tahu, saya cuma korban, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H Syaukani Hassan, mantan bupati Kutai Kertanegara yang kasusnya kini menyeret Vonnie Anneke, punya kegundahan yang sama. Sambil mendekam dalam penjara, Syaukani bersama tujuh narapidana lainnya yang dijebloskan KPK, mulai 22 hingga 26 mendatang mengadakan pameran lukisan bertajuk NarARTpidana: kreativitas dari balik jeruji besi, di Hotel Nikko, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaukani tak menampilkan lukisan, tapi puisi curahan hatinya yang dia tulis dalam bingkai besar. Simaklah penggalan bait puisinya yang berjudul Meniti Kodrat berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Berlari menyusuri belantara mencari peri keadilan&lt;br /&gt;Namun terhadang sang butakala kesewenangan&lt;br /&gt;Sementara tikus-tikus mulus berlari kencang melenggang hingga ke awang-awang&lt;br /&gt;Menghadapi ironi dengan pasrah, walau masih berbantah&lt;br /&gt;Jalani selalu dengan senyum&lt;br /&gt;walau berbalut kecut&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Semarang, pernah ada seorang mantan pejabat yang ketika disidang di pengadilan tetap menolak perbuatannya dianggap salah, meski berbagai fakta disodorkan di hadapannya. Si terdakwa itu begitu teguh dengan perasaannya bahkan hingga ajal menjemput. Padahal, proses pengadilan belum rampung. Dia merasa, apa yang dia lakukan tidaklah salah-salah amat. Sebab, sebagian uang hasil korupsinya dia pakai untuk membangun tempat ibadah megah di dekat tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri ini, bukan hanya rakyat yang sering dikelabui. Tuhan pun kadang berusaha disogok dengan uang hasil korupsi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8438433438807781043-648770551817821192?l=artikellepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikellepas.blogspot.com/feeds/648770551817821192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/perasaan-tidak-bersalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/648770551817821192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8438433438807781043/posts/default/648770551817821192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikellepas.blogspot.com/2011/06/perasaan-tidak-bersalah.html' title='Perasaan Tidak Bersalah'/><author><name>Artikel Menarik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01186958957345311736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://2.bp.blogspot.com/-eC2QVOwFJW0/TgOVi-QVu4I/AAAAAAAAAAU/4oSXzm20dnA/s220/shake-hand.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
